BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perda adalah produk kebijakan publik yang dimana publik sendiri berhak untuk menguji kemanfaatannya bagi kesejahteraan hidup umat manusia. Perda dibuat berdasarkan masukan para stakeholders yang relevan yang kemudian akan disosialisasikan kepada masyarakat agar masyarakat dapat menerima dan melaksanakan Perda yang dikeluarkan oleh Pemerintah.
Perda dibuat untuk dapat menertibkan masyarakat untuk terwujudnya kesejahteraan dan ketentraman hidup bagi masyarakat di daerahnya. Terkadang Perda dapat menimbulkan kontroversi bagi masyarakat setempat. Kebanyakan Perda yang dibuat hanyalah untuk dapat mensejahterakan para elite politik atau kelompok kepentingan bukan semata – mata untuk masyarakat.
Secara agama Islam, mereka percaya dengan kitab suci Al-Qur’an yang dapat dijadikan sebagai pedoman dan pandangan dalam kehidupan sehari – hari. Mereka percaya dengan melaksanakan semua yang diperintahkan oleh Allah SWT dan apa yang dilarang oleh Nya sesuai dengan kitab suci Al-Qur’an yang menurut mereka suatu kitab sebagai tata aturan dalam kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Berbeda dengan Perda yang merupakan tata aturan hidup mereka di dunia dan dimana mereka hidup dengan orang banyak, seringkali tidak mematuhi atau bisa dibilang mereka tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Pemerintah. Sehingga, ada isu yang mengatakan sebaiknya Perda barbasis pada syariat Islam karena banyaknya umat islam yang lebih mendengarkan dan menjalankan syariat Islam. Namun, di sisi lain kita adalah warga negara Indonesia yang berasaskan pada Pancasila. Dan hal ini, menjadi sebuah kontroversi di kalangan masyarakat.
Pemerintah daerah yang membuat Perda berbasis syariat Islam ini ternyata dianggap mampu mengembalikan nilai moral masyarakat yang sudah rusak apalagi banyak kasus yang merajalela tentang perzinaan, sedangkan Peraturan yang dibuat ternyata tidak mempan bagi masyarakat untuk melakukan suatu perubahan yang baik, sehingga mau tidak mau dibuatlah Perda berbasis syariat Islam. Sehingga Penulis membuat suatu makalah yang berjudul “Pemberlakuan Peraturan Daerah (Perda) Berbasis Syariat Islam di Indonesia” karena merupakan suatu fenomena yang sampai sekarang ini menjadi sebuah persoalan di semua pihak.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka rumusan masalah ini yaitu:
1.Bagaimana Keberadaan Peraturan daerah (Perda) yang berbasis syariat Islam di Indonesia?
2.Di daerah – daerah mana saja yang telah menjalankan Peraturan daerah (Perda) berbasis syariat Islam?
3.Dampak Keberadaan Peraturan daerah (Perda) yang berbasis syariat Islam di Indonesia?
BAB II
ISI
2.1. Keberadaan Peraturan Daerah (Perda) Berbasis Syariat Islam di Indonesia
Di dalam Al – Qur’an Syariat Islam berarti jalannya umat Islam. Syariat Kristen berarti jalannya umat Kristen. Begitu pula dengan syariat Yahudi. Adapun Alquran menyebutkan, masing-masing agama mempunyai syariat tersendiri (Qs. 5: 48). Umat beragama dianjurkan mengikuti jalannya (syariat) masing-masing. Para ulama kemudian memaknai jalan dengan ajaran. Jalan Islam berarti ajaran Islam. Mengikuti jalan Islam berarti mengamalkan ajarannya.
Akhir-akhir ini muncul polemik tentang pemberlakuan Peraturan daerah (Perda) syariat Islam di berbagai daerah. keberadaan Perda syariat Islam adalah untuk memperbaiki moral bangsa. Selain itu juga sebagai jalan menuju negara Islam melalui gerakan arus bawah, karena untuk mengubah UUD 1945 dengan Piagam Djakarta membutuhkan perjuangan yang lama. Namun Perda syariat Islam bertentangan dengan Pancasila dan substansi perundang-undangan di atasnya yang berpotensi melahirkan perpecahan bangsa, karena wilayah tertentu yang tidak dihuni penduduk mayoritas Islam suatu saat juga akan memberlakukan syariat agama yang mereka anut.
Dalam sejarah, Islam yang menyatukan Indonesia. Dulu Indonesia terpecah-pecah, tidak ada Indonesia. Kemudian kita juga pernah menyaksikan ada Kabinet Natsir, RIS (Republik Indonesia Serikat). Islam disini dapat diartikan bahwa sejarah pernah membuktikan bahwa ajaran islam bisa dilakukan yang dimana sangat mungkin, sangat rasional, dan sangat kapabel untuk dilaksanakan dalam kehidupan masayarakat.
Perda yang diperlukan di daerah bukanlah Perda yang memunculkan ketakutan-represi bagi masyarakat kecil, namun mampu menekan para elite pemimpin yang perilakunya merusak keadaban publik. Jangan sampai perda syariat Islam justru dijadikan tameng bagi para pejabat “berjenggot” dan “berjubah” untuk berbuat korupsi dan sekaligus menyisihkan hasil korupsi untuk mendanai kegiatan kelompok-kelompok pendukung perda syariat Islam.
Maraknya Perda berbasis Syariat Islam tidak bisa dilepaskan, pertama, terbukanya peluang lewat otonomi daerah (desentralisasi). Kedua, aspirasi permanen sebagian kelompok Islam untuk memasukkan hukum Islam ke dalam hukum nasional setelah gagal mengamandemen UUD, kecenderungan itu bergeser ke tingkat daerah melalui Perda. Padahal Perda bernuansa Islam tersebut menyimpan potensi masalah dan bisa menimbulkan kecemburuan antar warga. (Gatra, 29/04/06).
Ada 3 masalah Perda berbasis Syariat yang saat ini telah diterapkan diberbagai daerah. Denny Indrayana, SH., LLM., Ph.D, pengajar di fakultas hukum Universitas Gajah Mada, Yogyakarta menjelaskannya sebagai berikut:
1. Dari sisi tertib hukum di Indonesia, perda berbasis Syariat tidak sesuai dengan UU No. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Karena dari segi penjaringan aspirasi tidak utuh. Proses penjaringan mengandung manipulasi karena mendatangkan orang luar untuk membawa aspirasi yang kemudian diklaim sebagai aspirasi masyarakat. Lagipula, UU No. 10 itu menyebutkan hirarki peraturan berdasar UU itu. Perda jelas ada di bawah UU No.32/2004, yang mengatakan bahwa masalah keagamaan adalah masalah pusat. Jika masalah keagamaan diatur dalam Perda, berarti bisa diintepretasikan kewenangan pusat diserobot oleh daerah.
2. Dari sisi legal drafting, perda ini bersumber dari hukum Islam. Karena tidak ada ada dalam UUD atau di UU yang menyebut, maka Al-Quran dan Hadits menjadi pertimbangan Perda. Dengan demikian perda melecehkan Al-Quran dan Hadits, karena sesungguhnya Perda ada di hirarki peraturan paling bawah menurut UU No. 10/2004. Apalagi, Perda sejenis hanya menyalin dari daerah lain dan hanya diganti judulnya.
3. Dari segi moral-politis, pembuatan Perda itu hanya untuk menarik simpati masyarakat menjelang pilkada. Karena dari segi substansi, jelas tidak signifikan di dalam masyarakat Indonesia yang kenyataannya beragam, tidak prioritas dan sangat prosedural. Seperti Propinsi Kalimantan Selatan yang membuat Perda Jumat Khusu’, Raperda Larangan Mandi di Sungai dan Perda Ramadhan, lain halnya jika Perda ditujukan untuk memberantas korupsi pejabat yang tentu lebih bernuansa syariat, menyeluruh dan mendesak.
Penerapan syariat Islam dalam kehidupan bernegara menemukan tempatnya pada pemerintahan daerah. Pascadesentralisasi, sejumlah daerah yang memiliki tradisi keagamaan Islam yang kuat gencar memberlakukan peraturan daerah (Perda) yang bersumber pada ajaran Islam. Hal yang diatur dalam perda itu mulai dari pengaturan tata cara berpakaian, pemberantasan maksiat, hingga pelaksanaan sejumlah ibadah.
Di luar parlemen, upaya menghidupkan syariat Islam dalam negara getol dilakukan beberapa organisasi massa Islam yang mengusung ideologi transnasional, seperti Hizbut Tahrir, Majelis Mujahiddin Indonesia, maupun Front Pembela Islam. Berbagai problem kemasyarakatan dan kebangsaan diyakini mampu diatasi jika syariat Islam ditegakkan dalam semua aspek kehidupan.
Perda syariat Islam secara realitas tampak dirasakan masyarakat Aceh, hanya melahirkan ketertekanan politik kepada masyarakat bawah yang seolah-olah diatur dengan moralitas abstrak. Sementara para pejabat dan ulama menjadi pemegang kebenaran moral syariat agama. Perda syariat Islam tidak menjawab realitas korupsi di era otonomi daerah (otda).
Perda syariat Islam boleh jadi bisa menurunkan angka kejahatan dan penyakit masyarakat, namun tidak menurunkan kejahatan politik para elite politik dan birokrasi. Justru dari pengalaman negara-negara yang mempraktikkan syariat Islam secara ortodoks, tingkat ekonomi, kesetaraan hak rakyat, dan prestasi ipteknya sangat rendah.
Pancasila merupakan ideologi kita yang merupakan suatu bentuk usaha untuk mengatasi keragaman agama dan sosial – budaya. Apabila semua masyarakat dapat untuk lebih setia dan menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari – hari, mungkin suatu peraturan daerah tidak menggunakan basis syariat Islam yang akan menimbulkan kecemburuan bagi umat beragama lainnya.
2.2. Daerah – daerah yang Menjalankan Peraturan Daerah (Perda) Berbasis Syariat Islam
Menurut Jurnal Reform Volume I No. 1 Tahun 2007 menyebutkan Perda berbasis ajaran agama atau biasa disebut Perda Syariat Islam dilaksanakan di enam provinsi, 38 kabupaten dan 12 kota. Pola pemberlakuan syariat Islam pun berbeda – beda seperti di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang menegaskan pelaksanaan hukum Islam, Perda syariat dibuat oleh Pemerintah Provinsi yang mengacu kepada sebuah aturan induk, yaitu Perda Nomor 5 Tahun 2000 tentang Penegakan Syariah Islam yang dimana Perda ini dibuat berlaku bagi seluruh kabupaten/kota di NAD.
Di Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat, perda dibuat di tingkat provinsi secara umum dengan harapan akan dikembangkan dan dijadikan aturan induk bagi pelaksanaan perda serupa di kabupaten/kota. Beberapa kabupaten/kota di kedua provinsi itu sudah memberlakukan aturan serupa.
Di Provinsi Riau, Sumatera Selatan, dan Gorontalo, perda syariat dibuat di tingkat provinsi, tetapi tidak diikuti pemerintah kabupaten/kota. Aturan yang diatur umumnya terkait dengan pelarangan pelacuran dan peredaran minuman keras.
Bentuk lain dari pemberlakuan Perda syariat adalah perda dibuat oleh pemerintah kabupaten/kota, tanpa ada aturan induk di tingkat provinsi. Kabupaten Cianjur (Jawa Barat), Tangerang (Banten), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), dan Pamekasan (Madura, Jawa Timur) adalah beberapa pemda yang melaksanakan Perda syariat walau provinsi induknya tak mengaturnya.
Kemunculan Perda berbasis ajaran Islam mendorong munculnya Perda syariat berbasis ajaran Kristen, yaitu Rancangan Perda Kota Injil di Manokwari (Papua Barat), yang juga mengatur tata laku moral masyarakat. Kondisi ini bisa memicu lahirnya Perda syariat berbasis agama lain di seluruh Indonesia.
Semula, pelaksanaan Perda syariat dianggap mampu mengembalikan nilai moral masyarakat yang sudah rusak, terutama dengan merajalelanya kemaksiatan. Aturan umum yang mengacu kepada hukum konvensional itu dinilai tidak mampu mencegah dekadensi moral yang terjadi.
Namun kini muncul tudingan pelaksanaan perda syariat adalah usaha pemerintah setempat untuk menutupi kegagalan mereka dalam mengelola tata pemerintahan yang baik dan transparan. Implementasi penegakan syariat itu di berbagai daerah pun banyak yang bersifat manipulatif.
Peraturan yang dibuat cenderung mengatur moralitas individu dan mengabaikan moralitas publik. Akibatnya, korupsi, inefisiensi birokrasi, dan ekonomi biaya tinggi tetap terjadi.Gagalnya upaya mempertahankan nilai moral masyarakat lebih disebabkan ketidakmampuan pemerintah dalam mengimplementasikan dan menegakkan aturan yang ada. Kegagalan itu bukan karena acuan hukum yang bersumber kepada nilai umum masyarakat dan tidak bersumber pada ajaran agama.
2.3. Dampak Keberadaan Peraturan Daerah (Perda) Berbasis Syariat Islam di Indonesia
Adapun dampak yang terjadi atas persoalan keberadaan dan penerapan Perda berbasis syariat di Indonesia, yaitu adanya Perda yang berbasis syariat Islam mengakibatkan kecemburuan pada umat agama lainnya yang mungkin akan menimbulkan semua umat agama lain akan menuntut Pemerintah daerah untuk membuat Perda sesuai dengan syariat agama mereka masing – masing. Namun, apabila kita lihat dari sisi lainnya Perda syariat Islam dapat mengembalikan moral publik dan moral aparat politik yang bernuansa islam.
Bukan hanya itu keberadaan Perda berbasis syariat Islam ternyata memberikan dampak bagi semua pihak di kalangan masyarakat. Semua para tokoh terkemuka di Indonesia pun angkat bicara akan masalah hal ini, ada yang pro dan kontra akan masalah ini karena menyangkut pada ideologi kita Pancasila dan sistem Pemerintahan Indonesia yang berasaskan Demokrasi.
Fenomena yang terjadi akibat keberadaan Perda berbasis Islam yaitu 56 anggota DPR RI meminta agar Perda berbasis syariat untuk dibatalkan. Namun, sebanyak 134 anggota DPR RI dari delapan fraksi menginginkan pelestarian Perda berbasis syariat Islam dengan alasan yaitu; pertama, Perda berbasis syariat Islam mempu menekan penyakit masyarakat yang masih merajalela seperti minuman keras, judi, dan pelacuran. Keuda, Perda berbasis syariat Islam lahir dari proses demokrasi di daerah yang melibatkan semua fraksi DPRD yang merupakan konfigurasi partai politik – partai politik di daerah dengan Pemerintah daerah untuk menunjukkan aspirasi masyarakat, sehingga DPR RI tidak mempunyai wewenang membatalkan hasil lembaga legislatif dan eksekutif daerah.
Menurut Nadirsyah Hosen, Ph. D, salah seorang Syuriah Nahdlatul Ulama mengatakan bahwa Perda berbasis syariat Islam tidak sesuai dengan prinsip negara hukum dan pemerintahan yang baik yang cenderung bernuansa syariat birokrasi. Alasannya yaitu Pertama, Syariat Islam direduksi menjadi sekedar masalah kulit semata. Syariat Islam dalam konteks pelayanan publik justru kabur. Kedua, sebagian topik yang diatur dalam syariat birokrasi sebenarnya sudah keterlaluan. Perda berbasis syariat Islam akan mencampuradukkan tuntutan moral, mana yang berupa anjuran dan mana yang berupa kewajiban agama.
Perda berbasis syariat Islam tidak memiliki paradigma birokrasi modern. Birokrasi pemerintahan yang modern harus lebih berfungsi sebagai katalis yang tidak perlu mengatur bidang – bidang yang seharunya dapat dikerjakan sendiri oleh masyarakat. Birokrasi seharunya memberdayakan masyarakat agar tidak tergantung sepenuhnya kepada pemerintah bukan sebaliknya yang mempersulit masyarakat dengan aturan detil.
Dalam diskusi yang bertema “Perda Syariat dan Demokrasi”, Ahmad Suaedi, Direketur Ekskutif The Wahid Institute, Jakarta. banyak memaparkan hasil risetnya tentang Perda Syariat. Menurutnya telah ada lebih kurang 37 Kabupaten dan Kota yang mempunyai Perda syariat. Istilah perda syariat sendiri menurutnya kurang begitu tepat. Ia lebih suka menyebutnya sebagai Perda penghalang demokrasi. Karena perda-perda yang dianggap sebagai “syariat” itu sebetulnya bukanlah syariat. Sebagian besar perda-perda tersebut mengatur moral individu dan masyarakat serta keterampilan beragama. Bahwa perda-perda itu sebagian bernuansa Islami dan disemangati oleh keimanan pada Allah Swt, tetapi perda yang ia anggap sebagai penghalang demokrasi bukan saja terbatas pada perda-perda “syariat”.
Menurut Nursyahbani yang merupakan anggota DPR RI dan pakar hukum mengatakan dalam UU No.25/2002 tentang otonomi daerah, kewenangan pemerintah dalam membuat peraturan daerah dibatasi pada masalah pembagian tugas kewenangan pusat dan daerah, pengaturan sirkulasi keuangan pusat dan daerah, serta hal-hal khusus daerah. Persoalan pelacuran, maksiat, perjudian dan semacamnya, bukanlah hal khusus daerah, tapi problem nasional. Oleh karenanya seharusnya persoalan itu tidak boleh diatur oleh daerah.
Maraknya Perda berbasis syariat yang terjadi di beberapa daerah, Gereja Katolik meminta Pemerintah Indonesia untuk mengawasi dan mempelajari Peraturan daerah (Perda) dan Undang – Undang yang berbasis syariat. Pemerintah hendaknya menentukan apakah Perda dan Undang – Undang yang dibuat oleh Pemerintah daerah sesuai dengan Pancasila dan Undang – Undang 1945.
Menurut Pastor A. Benny Susetyo, pr, Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antar-Agama dan kepercayaan konferensi Waligereja Indonesia menganggap bahwa Perda dan Undang – Undang semacam itu tidak konsisten dengan UUD 1945 atau Pancasila.
Pada zaman modern, penerapan syariat (Islam) juga pernah diusahakan oleh para perumus ideologi negeri ini di awal-awal kemerdekaan. Namun usaha itu tidak kesampaian, karena terjadi perdebatan sengit antara dua kekuatan besar yang terpolarisasi, yaitu kelompok teokratis yang menginginkan syariat (Islam) dijadikan ideologi negara dengan kelompok nasionalis sekuler yang menolak prinsip-prinsip syariat (Islam) dimasukkan sebagai ideologi negara. Debat tersebut berlarut-larut, bahkan sempat deadlock, meskipun pada akhirnya dimenangkan- jika boleh dibilang begitu- oleh kaum nasionalis sekuler.
Namun yang menjadi persoalan kini, apakah penerapan perda itu sudah sudah menjadi cita-cita masyarakat Indonesia? Ataukah hanya keinginan kelompok-kelompok Islam tertentu? Apakah penerapan perda kesusilaan dan keagamaan itu tidak bertentangan dengan hukum nasional? Apakah sudah ada upaya-upaya penelitian dan survei, terutama dari pemerintah baik pusat maupun daerah, yang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah siap untuk menjalankan perda tersebut atau setidak-tidaknya ada prakondisi ?
Melihat kemajemukan masyarakat Indonesia baik agama, etnik, bahasa, dan lain sebagainya, sepertinya usaha penerapan perda kesusilaan dan keagamaan bukanlah persoalan yang sederhana. Jika pada awal-awal kemerdekaan saja usaha penerapan syariat Islam mendapatkan tantangan yang cukup kuat dari kalangan nasionalis sekuler, maka pada saat ini diperlukan usaha untuk mengkaji ulang perda kesusilaan dan keagamaan tersebut, yang tentu saja kondisi saat ini lebih rumit dan kompleks daripada masa awal kemerdekaan.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Keberadaan Perda syariat Islam adalah untuk memperbaiki moral bangsa. Selain itu juga sebagai jalan menuju negara Islam melalui gerakan arus bawah, karena untuk mengubah UUD 1945 dengan Piagam Djakarta membutuhkan perjuangan yang lama. Namun Perda syariat Islam bertentangan dengan Pancasila dan substansi perundang-undangan di atasnya yang berpotensi melahirkan perpecahan bangsa, karena wilayah tertentu yang tidak dihuni penduduk mayoritas Islam suatu saat juga akan memberlakukan syariat agama yang mereka anut. Menurut Jurnal Reform Volume I No. 1 Tahun 2007 menyebutkan Perda berbasis ajaran agama atau biasa disebut Perda Syariat Islam dilaksanakan di enam provinsi, 38 kabupaten dan 12 kota.
Dampak yang terjadi atas persoalan keberadaan dan penerapan Perda berbasis syariat di Indonesia, yaitu adanya Perda yang berbasis syariat Islam mengakibatkan kecemburuan pada umat agama lainnya yang mungkin akan menimbulkan semua umat agama lain akan menuntut Pemerintah daerah untuk membuat Perda sesuai dengan syariat agama mereka masing – masing. Namun, apabila kita lihat dari sisi lainnya Perda syariat Islam dapat mengembalikan moral publik dan moral aparat politik yang bernuansa islam. Bukan hanya itu keberadaan Perda berbasis syariat Islam membuat semua para tokoh terkemuka di Indonesia pun angkat bicara akan masalah hal ini, ada yang pro dan kontra akan masalah ini karena menyangkut pada ideologi kita Pancasila dan sistem Pemerintahan Indonesia yang berasaskan Demokrasi.
3.2. Saran
Pemerintah Pusat harus bertindak tegas terhadap Pemerintah Daerah, baik di tingkat propinsi, kabupaten dan kotamadya yang telah mengadopsi Perda dan Undang Undang kontrovrsial. Untuk mencegah munculnya aneka masalah, Pemerintah Pusat harus punya keberanian moral dan politik dalam menghadapi Pemerintah Daerah jika tidak, Indonesia akan menghadapi situasi kerancuan hukum dan ketidakpastian hukum. Karena, masalah Perda berbasis syariat Islam adalah masalah hukum dan tidak berkaitan dengan pribadi, agama tertentu atau kelompok masyarakat tertentu Pemerintah yang harus menangani dengan bijaksana.
DAFTAR PUSTAKA
Buku;
Sarman, Mukhtar. 2006. Mencari Kebenaran Menuai Kecaman Di Balik Kontroversi Perda Ramadhan. PK2PD & LK3: Banjarmasin
Internet;
www.kompas.co.id
http://lulukpr.multiply.com/r/b
http://islamlib.com/id/index
http://zfikri.wordpress..com/
Surat Kabar;
Gatra, 29 April 2006
Minggu, 02 Desember 2007
Siring Sudirman Banjarmasin
Pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman
A. Pendahuluan
Menurut teorinya secara positif pembangunan merupakan suatu proses untuk membuat sesuatu yang lebih baik dan membuat sesuatu yang belum dibangun untuk dibangun. Pembangunan sebagai fenomena social yang mencerminkan kemajuan peradaban dari tingkat peradaban yang satu ke tingkat peradaban lain.
Pembangunan ditujukan untuk membuat suatu daerah lebih baik sebelumnya. Dengan diberlakukannya UU No.22 Tentang Otonomi Daerah, Banjarmasin juga sedang maraknya melakukan pembangunan agar menjadi Kota Banjarmasin yang BUNGAS yaitu Bersih, Unggul, Nyaman, Gagah, Aman dan Sehat. Apalagi Kota Banjarmasin menyandang predikat sebagai kota terkotor se-Indonesia, hal ini dikarenakan penilaian yang terlihat buruknya pengelolaan lingkungan atas kota dengan luas 72,6 kilometer persegi yang dihuni sekitar 572.000 jiwa dan ini menyangkut kondisi jalan, got saluran air, pasar, terminal angkutan umum dan pengelolaan sampah yang masih semrawut.
Pada masa Rudi Arifin, secara kasat mata banyak sekali pembangunan yang dilaksanakan untuk mewujudkan kota Banjarmasin BUNGAS. Salah satunya adalah pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman yang letaknya tepat di depan Mesjid Raya Sabilal Muhtadin. Sebelum dibangunnya pembangunan siring tersebut, terlihat sangat kumuh karena diseberang bantaran sungai Martapura tersusun rumah – rumah kayu yang sangat kusam dan tidak rapi. Bukan hanya itu, bantaran sungai pun kadang – kadang digunakan oleh masyarakat setempat untuk melakukan aktivitas seperti mandi, cuci – cuci, dan lainnya yang sangat tidak enak dilihat oleh orang – orang yang sedang melewati Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya lagi di muka Mesjid Raya Sabilal Muhtadin. Kemudian, apabila air sungai Martapura mengalami pasang maka air sungai akan membanjiri jalan Jenderal Sudirman yang akibatnya sampah – sampah di sungai pun ikut membanjiri jalan Jenderal Sudirman, jadi bisa dikatakan bahwa penilaian tidak salah kalau Kota Banjarmasin dipredikatkan sebagai kota yang paling terkotor.
Pada tanggal 21 Desember 2006 lalu, Siring Jalan Jenderal Sudirman telah diresmikan oleh Pemerintah Kota Banjarmasin. Pembangunan yang dibuat sepanjang jalan Jenderal Sudirman yaitu 320 meter dan menghabiskan dana sebesar Rp 15.756.955.390 terlihat sangat indah dan anggun. Pembangunan ini bisa dijadikan sebagai suatu kemajuan material bagi Kota Banjarmasin yang kebanyakan dianggap oleh masyarakat sebagai kemajuan Kota Banjarmasin untuk lebih maju dan unggul serta menghapus predikat kota terkotor se-Indonesia. Namun, yang namanya pembangunan pasti memiliki suatu dampak baik itu bersifat positif maupun negatif dari masyarakat dan untuk masyarakat Kota Banjarmasin.
B. Tujuan Pembagunan
Suatu pembagunan baik itu jangka panjang maupun jangka pendek pasti mempunyai tujuan yang tentunya akan bermanfaat bagi daerah itu sendiri maupun masyarakat setempat. Bagitu pula pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman yang dibuat bertujuan untuk menata perkotaan Banjarmasin agar lebih indah dilihat dan mengantisipasi air bantaran sungai Martapura yang tiba – tiba naik ke Jalan jenderal Sudirman akibat pasangnya air di sungai.
C. Kondisi di Lapangan
Selesainya Siring Sudirman ini membuat warna baru bagi Kota Banjarmasin dan dijadikan sebagai tempat santai oleh masyarakat Banjarmasin, ini bisa terlihat pada sore hari yang banyak dikunjungi oleh masyarakat dari anak – anak, muda – mudi dan orang tua. Suasana yang mengasyikan untuk melepaskan suntuk, lelah dan capek sambil menyaksikan perahu – perahu air yang berlalu lalang di sungai Martapura, mersakan hembusan angin yang sepoi – sepoi dan menikmati demboran ombak sungai yang dapat menentramkan jiwa masyarakat Kota Banjarmasin. Apalagi pada malam hari, dimana lampu – lampu yang menghiasi sepanjang siring itu membuat pusat Kota Banjarmasin semakin anggun. Tiangnya yang terbuat dari kayu ulin, menjadi ciri khas tersendiri yang menggambarkan sebuah arsitektur budaya Banjar.
Siring Jalan Jenderal Sudirman yang sangat menarik perhatian masyarakat Kota Banjarmasin untuk selalu mengunjunginya mengakibatkan suatu dampak yang negatif yang terlihat jelas di lapangan sebagai hasil obesrvasi yaitu:
1.Banyak para pedagang atau PKL yang beroperasi menjualkan dagangannya di pinggir jalan raya sehingga mengakibatkan terganggunya arus lalu lintas.
2.Sampah – sampah yang menghiasi pinggir Siring Jalan Jenderal Sudirman akibat masyarakat yang kurang kesadarannya untuk selalu menjaga kelestarian Siring Jalan Jenderal Sudirman.
3.Walaupun Pemerintah telah mendirikan dua buah papan pengumuman yang menyatakan dilarangnya bagi PKL di kawasan siring namun masih saja terlihat PKL yang beroperasional.
4.Parkir – parkir liar yang memakan tempat jalan raya mengakibatkan terganggunya arus lalu lintas yang menimbulkan kemacetan di sore hari.
5.Siring bukan hanya dijadikan sebagai tempat nongkrong bagi muda – mudi tetapi juga dijadikan sebagai tempat mengadu kasih atau tempat berpacaran yang sangat tidak etis mengingat depan Siring Jalan Jenderal Sudirman adalah Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.
Pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman juga mempunyai dampak yang positif yang sangat bermanfaat bagi Kota Banjarmasin, yaitu:
1.Dapat dijadikan sebagai dermaga untuk masyarakat yang ingin berpergian ke suatu tempat melalui sungai Martapura dengan menggunakan perahu – perahu kecil.
2.Dengan adanya pembangunan siring tersebut Kota Banjarmasin semakin indah dan anggun dilihat orang – orang yang melalui kawasan Jalan Jenderal Sudirman.
3.Waktu air sungai pasang, maka tidak lagi membanjiri Jalan Jenderal Sudirman karena pembangunan yang melindungi agar air tidak naik ke jalan raya.
4.Dapat dijadikan sebagai tempat santai bagi masyarakat Kota Banjarmasin untuk menghilangkan kejenuhan dan menenangkan jiwa.
D. Saran – saran
Dari hasil observasi di Siring Jalan Jenderal Sudirman, ada beberapa saran – saran yang dapat dijadikan sebagai masukan agar Siring Jalan Jenderal Sudirman dapat dijaga dan dilestarikan sehingga pembangunan tersebut dapat bertahan semaksimal, yaitu:
1.Hendaknya Pemerintah selalu mengaktifkan Pamong Praja untuk mengawasi para PKL liar yang masih beroperasional di kawasan Siring Jalan Jenderal Sudirman agar pusat kota tidak semrawut atas PKL – PKL.
2.Pemerintah juga hendaknya memperhatikan parkir – parkir liar sepanjang Jalan Jenderal Sudirman yang sangat mengganggu arus lalu lintas bagi masyarakat yang melewati kawasan Jalan Jenderal Sudirman supaya dapat mengantisipasi kemacetan dan kecelakaan.
3.Kurangnya kesadaran masyarakat untuk dapat tertib membuang sampah di tempatnya, ini sangat terlihat di sisi – sisi atau di pojok – pojok siring masih bertebarannya sampah – sampah yang mengakibatkan Siring Jalan Jenderal Sudirman terlihat kotor dan kusam.
E. Foto – foto Hasil di Lapangan
Gambar 1. Kondisi Kota Banjarmasin di sekitar bantaran Sungai Martapura pada saat proyek pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 2. Peresmian Siring Jalan Jenderal Sudirman yang ditanda tangani oleh Gubernur Banjarmasin Bp. H. Rudi Arifin, S. Sos
Gambar 3. Kondisi perumuhan yang kumuh di seberang Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 4. Suasana Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 5. Kondisi Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 6. Siring Jalan Jenderal Sudirman dapat dijadikan sebagai dermaga
Gambar 7. Papan Pengumuman larangan bagi PKL di kawasan Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 8. Sampah yang berserakan di sekitar Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 9. Para PKL yang beroperasional di kawasan Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 10. Sirng Jalan Jenderal Sudirman dijadikan sebagai tempat pacaran atau berduaan
Gambar 11. Parkir liar yang memakan Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 12. Pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman yang sangat asri dan nyaman
A. Pendahuluan
Menurut teorinya secara positif pembangunan merupakan suatu proses untuk membuat sesuatu yang lebih baik dan membuat sesuatu yang belum dibangun untuk dibangun. Pembangunan sebagai fenomena social yang mencerminkan kemajuan peradaban dari tingkat peradaban yang satu ke tingkat peradaban lain.
Pembangunan ditujukan untuk membuat suatu daerah lebih baik sebelumnya. Dengan diberlakukannya UU No.22 Tentang Otonomi Daerah, Banjarmasin juga sedang maraknya melakukan pembangunan agar menjadi Kota Banjarmasin yang BUNGAS yaitu Bersih, Unggul, Nyaman, Gagah, Aman dan Sehat. Apalagi Kota Banjarmasin menyandang predikat sebagai kota terkotor se-Indonesia, hal ini dikarenakan penilaian yang terlihat buruknya pengelolaan lingkungan atas kota dengan luas 72,6 kilometer persegi yang dihuni sekitar 572.000 jiwa dan ini menyangkut kondisi jalan, got saluran air, pasar, terminal angkutan umum dan pengelolaan sampah yang masih semrawut.
Pada masa Rudi Arifin, secara kasat mata banyak sekali pembangunan yang dilaksanakan untuk mewujudkan kota Banjarmasin BUNGAS. Salah satunya adalah pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman yang letaknya tepat di depan Mesjid Raya Sabilal Muhtadin. Sebelum dibangunnya pembangunan siring tersebut, terlihat sangat kumuh karena diseberang bantaran sungai Martapura tersusun rumah – rumah kayu yang sangat kusam dan tidak rapi. Bukan hanya itu, bantaran sungai pun kadang – kadang digunakan oleh masyarakat setempat untuk melakukan aktivitas seperti mandi, cuci – cuci, dan lainnya yang sangat tidak enak dilihat oleh orang – orang yang sedang melewati Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya lagi di muka Mesjid Raya Sabilal Muhtadin. Kemudian, apabila air sungai Martapura mengalami pasang maka air sungai akan membanjiri jalan Jenderal Sudirman yang akibatnya sampah – sampah di sungai pun ikut membanjiri jalan Jenderal Sudirman, jadi bisa dikatakan bahwa penilaian tidak salah kalau Kota Banjarmasin dipredikatkan sebagai kota yang paling terkotor.
Pada tanggal 21 Desember 2006 lalu, Siring Jalan Jenderal Sudirman telah diresmikan oleh Pemerintah Kota Banjarmasin. Pembangunan yang dibuat sepanjang jalan Jenderal Sudirman yaitu 320 meter dan menghabiskan dana sebesar Rp 15.756.955.390 terlihat sangat indah dan anggun. Pembangunan ini bisa dijadikan sebagai suatu kemajuan material bagi Kota Banjarmasin yang kebanyakan dianggap oleh masyarakat sebagai kemajuan Kota Banjarmasin untuk lebih maju dan unggul serta menghapus predikat kota terkotor se-Indonesia. Namun, yang namanya pembangunan pasti memiliki suatu dampak baik itu bersifat positif maupun negatif dari masyarakat dan untuk masyarakat Kota Banjarmasin.
B. Tujuan Pembagunan
Suatu pembagunan baik itu jangka panjang maupun jangka pendek pasti mempunyai tujuan yang tentunya akan bermanfaat bagi daerah itu sendiri maupun masyarakat setempat. Bagitu pula pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman yang dibuat bertujuan untuk menata perkotaan Banjarmasin agar lebih indah dilihat dan mengantisipasi air bantaran sungai Martapura yang tiba – tiba naik ke Jalan jenderal Sudirman akibat pasangnya air di sungai.
C. Kondisi di Lapangan
Selesainya Siring Sudirman ini membuat warna baru bagi Kota Banjarmasin dan dijadikan sebagai tempat santai oleh masyarakat Banjarmasin, ini bisa terlihat pada sore hari yang banyak dikunjungi oleh masyarakat dari anak – anak, muda – mudi dan orang tua. Suasana yang mengasyikan untuk melepaskan suntuk, lelah dan capek sambil menyaksikan perahu – perahu air yang berlalu lalang di sungai Martapura, mersakan hembusan angin yang sepoi – sepoi dan menikmati demboran ombak sungai yang dapat menentramkan jiwa masyarakat Kota Banjarmasin. Apalagi pada malam hari, dimana lampu – lampu yang menghiasi sepanjang siring itu membuat pusat Kota Banjarmasin semakin anggun. Tiangnya yang terbuat dari kayu ulin, menjadi ciri khas tersendiri yang menggambarkan sebuah arsitektur budaya Banjar.
Siring Jalan Jenderal Sudirman yang sangat menarik perhatian masyarakat Kota Banjarmasin untuk selalu mengunjunginya mengakibatkan suatu dampak yang negatif yang terlihat jelas di lapangan sebagai hasil obesrvasi yaitu:
1.Banyak para pedagang atau PKL yang beroperasi menjualkan dagangannya di pinggir jalan raya sehingga mengakibatkan terganggunya arus lalu lintas.
2.Sampah – sampah yang menghiasi pinggir Siring Jalan Jenderal Sudirman akibat masyarakat yang kurang kesadarannya untuk selalu menjaga kelestarian Siring Jalan Jenderal Sudirman.
3.Walaupun Pemerintah telah mendirikan dua buah papan pengumuman yang menyatakan dilarangnya bagi PKL di kawasan siring namun masih saja terlihat PKL yang beroperasional.
4.Parkir – parkir liar yang memakan tempat jalan raya mengakibatkan terganggunya arus lalu lintas yang menimbulkan kemacetan di sore hari.
5.Siring bukan hanya dijadikan sebagai tempat nongkrong bagi muda – mudi tetapi juga dijadikan sebagai tempat mengadu kasih atau tempat berpacaran yang sangat tidak etis mengingat depan Siring Jalan Jenderal Sudirman adalah Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.
Pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman juga mempunyai dampak yang positif yang sangat bermanfaat bagi Kota Banjarmasin, yaitu:
1.Dapat dijadikan sebagai dermaga untuk masyarakat yang ingin berpergian ke suatu tempat melalui sungai Martapura dengan menggunakan perahu – perahu kecil.
2.Dengan adanya pembangunan siring tersebut Kota Banjarmasin semakin indah dan anggun dilihat orang – orang yang melalui kawasan Jalan Jenderal Sudirman.
3.Waktu air sungai pasang, maka tidak lagi membanjiri Jalan Jenderal Sudirman karena pembangunan yang melindungi agar air tidak naik ke jalan raya.
4.Dapat dijadikan sebagai tempat santai bagi masyarakat Kota Banjarmasin untuk menghilangkan kejenuhan dan menenangkan jiwa.
D. Saran – saran
Dari hasil observasi di Siring Jalan Jenderal Sudirman, ada beberapa saran – saran yang dapat dijadikan sebagai masukan agar Siring Jalan Jenderal Sudirman dapat dijaga dan dilestarikan sehingga pembangunan tersebut dapat bertahan semaksimal, yaitu:
1.Hendaknya Pemerintah selalu mengaktifkan Pamong Praja untuk mengawasi para PKL liar yang masih beroperasional di kawasan Siring Jalan Jenderal Sudirman agar pusat kota tidak semrawut atas PKL – PKL.
2.Pemerintah juga hendaknya memperhatikan parkir – parkir liar sepanjang Jalan Jenderal Sudirman yang sangat mengganggu arus lalu lintas bagi masyarakat yang melewati kawasan Jalan Jenderal Sudirman supaya dapat mengantisipasi kemacetan dan kecelakaan.
3.Kurangnya kesadaran masyarakat untuk dapat tertib membuang sampah di tempatnya, ini sangat terlihat di sisi – sisi atau di pojok – pojok siring masih bertebarannya sampah – sampah yang mengakibatkan Siring Jalan Jenderal Sudirman terlihat kotor dan kusam.
E. Foto – foto Hasil di Lapangan
Gambar 1. Kondisi Kota Banjarmasin di sekitar bantaran Sungai Martapura pada saat proyek pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 2. Peresmian Siring Jalan Jenderal Sudirman yang ditanda tangani oleh Gubernur Banjarmasin Bp. H. Rudi Arifin, S. Sos
Gambar 3. Kondisi perumuhan yang kumuh di seberang Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 4. Suasana Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 5. Kondisi Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 6. Siring Jalan Jenderal Sudirman dapat dijadikan sebagai dermaga
Gambar 7. Papan Pengumuman larangan bagi PKL di kawasan Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 8. Sampah yang berserakan di sekitar Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 9. Para PKL yang beroperasional di kawasan Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 10. Sirng Jalan Jenderal Sudirman dijadikan sebagai tempat pacaran atau berduaan
Gambar 11. Parkir liar yang memakan Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 12. Pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman yang sangat asri dan nyaman
Duta Mall Banjarmasin
Hasil Laporan Observasi Duta Mall
Berkaitan dengan Teori Mc Donaldisasi dan Alat Konsumsi Baru
A. Pendahuluan
Teori Mc Donaldization merupakan sasaran perhatian yang semata – mata hanya tertuju pada rasionalitas formal dan fakta bahwa restoran cepat saji / fast food mencerminkan paradigma kehidupan masa kini dari rasionalitas formal,dimana system rasionalitas cenderung lebih mengutamakan pada kuantitas, biasanya kuantitas lebih besar ketimbang kualitas.
Bila kita menyamakan rasionalitas formal dengan modernitas, maka kesuksesan dan penyebaran restoran cepat saji maupun derajat penerimaannya yang menjadi model pelayanan di berbagai sector kehidupan bermasyarakat yang lain menunjukkan bahwa kita masih terus hidup dalam dunia modern.
Ritzer (1999) belakangan ini telah membahas munculnya “alat konsumsi baru” di Amerika Serikat sepanjang lebih dari setengah abad sejak akhir PD II MC. Donald C dan industri fast food pada umumnya adalah salah satu dari alat konsumsi yang baru, selain alat – alat lainnya seperti mall, mega mall, superstore (misalnya toys “R” us) dis counter (wal mart), saluran hiburan hotel, kasino Las Vegas, taman bertemakan ada Disney, dsb.
Konsep arti baru konsumsi diturunkan dari karya Karl Marx. Akan tetapi seperti teoritisi modern lainnya, Marx terutama memfokuskan pada produksi yaitu dia mempunyai bias produksi. Berdasarkan realitas yang dihadapnya – masa awal – awal revolusi industri dan kapitalisme – fokus pada produksi pada umumnya dan alat – alat produksi pada khususnya dapat dipahami. Akan tetapi, di tahun – tahun belakangan ini, sepanjang produksi dan konsumsi dapat dipilih dengan tegas, produksi telah tumbuh menjadi kurang penting, sedang konsumsi menjadi semakin penting. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh arus globalisasi dan modernisasi yang menyediakan semua barang maupun jasa secara instan. Tingginya tekhnologi juga mengakibatkan munculnya alat – alat otomatis yang disengaja dibuat untuk membantu manusia dalam kehidupan baik itu pada sisi bekerja atau pun memuaskan kebutuhan hidup mereka.
Paradigma Baudrillard tentang alat – alat konsumsi adalah “drugstore” Paris. Di bawah ini deskripsinya tentang toko obat Paris:
”semua yang menyerupai farmasi Amerika diselipkan ke pojokan, selebihnya adalah seperti departement store mini dengan segala barang mulai dari buku sampai kamera, mainan, koran dan majalah Perancis dan asing, baju dan barang – barang laku seperti salad, minuman ringan, telur ikan, pate de fole gras dan keranjang piknik. Kafe di luar toko obat (Le Drugstore) menawarkan menu yang diklaim ”asli” Amerika (Rothenberg dan Rothenberg, 1993 : 38)
”Toko obat” Paris itu jelas merupakan alat – alat konsumsi karena ia adalah sebuah alat, suatu struktur ekonomi dan sosial yang membuat konsumen dapat memperoleh beraneka macam komoditas, tetapi ini hanyalah titik awal Baudrilland. Dalam konteks ini dia mendeskripsikan sebuah komunitas, Parly 2 dengan pusat perbelanjaan, kolam renang, club house dan pembangunan perumahan. Pusat perbelanjaan adalah contoh dari alat – alat konsumsi baru, contoh lainnya yang didiskusikan oleh Boudrilland adalah tempat hiburan (resort ski, club med) dan bandara. Dalam kenyataannya, dewasa ini toko obat itu telah diganti dengan jenis – jenis alat konsumsi baru yang menjadi perhatian kita disini restoran fastfood, toserba, euro Disney,dsb meski demikian pemahaman Baudrilland tentang alat – alat konsumsi adalah yang terdekat dengan ciri konsep itu sangat rasional atau ter-Mc. Donalisasi-kan .
B. Hasil Lapangan
Duta Mall yang terletak di Jl.A. Yani Km 2 merupakan lat konsumsi baru di Kota Banjarmasin . Duta Mall yang luasnya hampir empat hektar yang rencananya juga akan di bangun hotel dan apartemen sekarang menjadi satu – satunya pusat perbelanjaan modern, pertama terbesar, terlengkap dan termegah di Banjarmasin. Ini merupakan sasaran yang rasionalitas yang orientasinya mengarah modernisasi. Sehingga tak heran kalau Duta Mall menjadi sasaran perhatian bagi masyarakat baik muda atau pun tua serta anak– anak entah pengunjungnya berasal dari daerah setempat atau berada di luar daerah.
Duta Mall mempunyai fasilitas dan keunggulan yang mendukung, dimana TRADE MALL ( Trade Center Mall ) Pertama terbesar, terlengkap dengan hadirnya hypermart dan Diamond Dept. Store, hiburan keluarga Cineplex Studio 21, Toko Buku Gramedia, Kharisma, Food Court Tradisional, National dan International, bakery & snack yang dirancang khusus untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat juga tersedia Pusat handphone, elektronik, komputer, pusat perhiasan emas, cinderamata dan kerajinan tangan batik sasirangan, busana muslim, game AMAZONE, optik melawai, SEIS, International Apotik Farmasi Century, guardian, Boston Drugs, dan lain-lain. Dengan harga ringan ( Bisa diangsur ) Harga terjangkau dengan cara pembayaran yang ringan dengan angsuran KPK (Kredit Pemilikan Kios) dengan status Kepemilikan Toko Strata Title ( HGB) lokasi pusat strategi di Kota yang terletak di Jalan Jend. A. Yani KM 2 pusat kota Banjarmasin mudah diakses dari segala penjuru kota sari dalam maupun luar kota. Tersedianya sarana gedung parkir yang sangat luas, bisa menampung 1,500 unit mobil dan 5,000 unit sepeda motor yang dikelola secara professional dan terjamin keamanannya dengan management professional Semua aktivitas operasional dikelola oleh Team management yang sudah sangat berpengalaman dan memiliki reputasi Nasional maupun International.
Duta Mall juga menawarkan berbagai bentuk fashion dan hiburan yang merupakan daya tarik bagi masyarakat Banjarmasin untuk selalu dapat mengunjunginya. Tiap kali kita memasuki Duta Mall kita akan diperiksa oleh satpam setempat yang berdiri stand by di pintu yang merupakan suatu sikap dari bentuk keamanan dari pelayanan yang diberikan oleh pihak pengelola Duta Mall agar orang – orang yang mengujungi Duta Mall akan merasa aman dan nyaman tanpa ada kriminalitas di dalamnya. Kita tidak perlu lagi capek – capek jalan naik tangga karena telah tersedianya escalator atau tangga berjalan sehingga membuat pelanggan merasa nyaman dan santai karena tidak mengeluarkan keringat untuk menaiki tangga. Namun sayangnya, di Duta Mall belum terlihat adanya lift transparan seperti di Mall – Mall lainnya yang ada di Jakarta.
BIla kita memasuki gedung Duta Mall maka kita sendiri akan lupa waktu karena dari dalam gedung Duta Mall kita tidak tau keadaan dan kondisi di luar sana, hujan atau panas masih siang atau sudah malam, sebab di dalam gedung terasa nyaman, aman, sejuk dan menyenangkan, hari terasa siang terus karena lampu terang benderan. Entah apa tujuan dari teknik manajeman Duta Mall untuk tidak memasang jam dinding. Hanya saja penulis menspekulasikan agar para pelanggan lupa waktu dan selalu berada di dalamnya.
Duta Mall yang terdiri dari empat lantai mempunyai daya tarik sehingga semua orang tak bosan untuk selalu mengunjunginya, adapun setiap lantai diisi dengan variasi yang berbeda – beda:
a. Lantai dasar atau lantai pertama diisi dengan pernak – pernik seperti kaca mata, jam tangan, selular shop, mainan anak – anak, sepatu, sandal, busana – busana buat dari anak – anak, remaja dan orang tua, cinderamata, batik, sasirangan dan lain – lainnya dengan harga yang terjangkau dan kebanyakan disewa oleh investor / pedagang local kota Banjarmasin. Disini para penjual disusun dengan tanpa ruang atau batas sehingga seolah – olah terlihat membaur dengan toko satu dengan yang lainnya.
b. Lantai dua, diisi dengan toko – toko yang beruang atau adanya pembatas. Di lantai dua ini kita akan menemui toko – toko yang menjual alat – alat olah raga (fitness), Hypermart yang merupakan sasaran ibu – ibu rumah tangga yang menjual barang – barang rumah tangga dan kebutuhan – kebutuhan hidup yang terkadang lebih murah dibandingkan di pasar, toko – toko kosmetik, optic, took baju dan sepatu dan lain – lain. Di lantai ini pun terdapat juga toko fast food yaitu A&W, KFC, Bread Life dan Texas.
c. Lantai tiga, toko – toko disusun dengan adanya ruang atau batasan sama halnya dengan lantai dua. Di lantai ketiga ini dipenuhi oleh toko – toko pakaian yang bermerek yang harganya ratusan ribu keatas seperti toko baju remaja 61, Matahari, Ray Surf, adanya toko buku Gramedia, toko sepatu Bata. Serta dilengkapi dengan restaurant – restaurant yang desain luarnya sangat menarik perhatian orang – orang tentunya pula dengan harga yang mahal.
d. Lantai empat, merupakan yang paling dipenuhi oleh orang orang. Di lantai empat ini terdapat mainan Amazone yang menjadi sasaran minat bagi anak – anak, remaja, maupun orang tua. Kemudian disebelah kananya tersedia fast food (food court) yang digunakan sekitar 25 depot makanan lokal dan nasional dengan harga yang terjangkau dan disebelah kiri ada tempat keluarga yaitu Cineplex 21 yang merupakan sasaran anak – anak remaja. Ada juga toko – toko pernak – pernik yang melengkapi semua kebutuhan para cewek dan juga toko – toko baju merek luar negeri.
Setiap alat konsumsi baru selalu meliputi empat hal yaitu, efisiensi, kalkubilitas, prediktabilitas dan kontrol dari tekhnologi non manusia bisa diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Efesiensi, Mall misalnya, dapat dideskripsikan sebagai mesin penjualan yang sangat efisien. Ini pada gilirannya menjadikannya ”mesin pembelian” yang sangat efisien dari perspektif konsumen. Konsumsi jelas dibuat lebih efisien untuk konsumen karena tersedia semua jenis toko dalam satu tempat yang juga punya tempat parkir berdekatan yang luas efisiensi yang sama yang juga disediakan oleh superstone bagi konsumen yang mencari jenis produk tertentu. Begitu juga dengan Duta Mall, adanya parkiran kendaran motor ataupun mobil yang disediakan yang berdekatan dengan pintu masuk Mall.
2. Kalkubilitas, di departemen store berdiskon, termasuk wal mart, konsumen dibuat percaya bahwa mereka dapat mengandalkan tiga hal yang dapat dikuantifikasi yaitu harga murah, jumlah barang yang banyak dan keanekaragaman jenis barang. Mereka juga percaya dengan diskon yang diberikan Mall, meskipun diskon itu sering kali hanya tipuan. Contohnya adalah Hypermat yang mempunyai moto diskon hingga sepuluh persen membuat para ibu – ibu rumah tangga saling berlomba – lomba untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Dengan menempel atau menggantungkan tulisan ”Harga Murah” semua orang akan membeli produk tersebut. Bukan hanya Hypermart, Matahari, Ramayana dan Hero pun juga begitu. Adapun pihak manajemen mengeluarkan barang dengan murah atau berdiskon adalah mungkin barang produksi telah mendekati tanggal kadaluarsa, masih promosi barang baru atau pun stok yang sudah tidak laku lagi di pasaran.
3. Prediktabilitas. Prediktabilitas yang dijumpai pada Mc. Donald tampak jelas dalam jaringan kafe seperti Hard Rock. Misalnya menu, rasa makanan. bahkan gitar yang dipajang di dinding adalah sama, entah itu di Osaka, Berlin atau San Fransisco. Di Duta Mall mempunyai restoran atau kafe agar para pelanggan untuk mengatasi urusan perut dengan segera tanpa harus keluar dari Mall. Ini juga merupakan taktik dari pihak manajemen Mall agar para pelanggan tetap selalu berada di dalamnya, sehingga Mall tidak kosong.
4. Kontrol melalui Tekhnologi Non Manusia, bukannya Tekhnologi manusia, Mall perbelanjaan dapat dilihat sebagai sesuatu yang sangat dikontrol secara tekhnologi di semua aspek dari operasinya. Kontrol ketat menackup suh, lampu, acara dan barang dagangan. Tujuannya adalah untuk mengontrol konsumen. Ruang dan waktu dikontrol dengan mendesain Mall tanpa jendela, hanya ada sedikit tanda pintu keluar, keseragaman Mall berarti mereka dapat berada dimana saja, dalam banyak kasus tidak ada jam di Mall, pemeliharaan dan penyusunan ulang periodik membuat Mall tidak pernah tua, ada ilusi kesempurnaan Mall konsumen berkeliaran berjam – jam di Mall tanpa menyadari berlalunya waktu. Dengan menciptakan keadaan ini, Mall memungkinkan konsumen bertemu dengan banyak toko dan melihat lebih banyak barang dan jasa dan membeli lebih banyak. Mall mengontrol apa- apa yang kita beli bukan dengan cara menetapkan apa yang ada dan apa yang tidak ada, tetapi jangan dengan menggunakan prinsip – prinsip ”daya tarik yang berdekatan” (adjacent attraction), dimana objek – objek yang biasa saja dibikin tampak lebih menarik dengan menempatkannya di sekililing objek yang berbeda dan lebih eksotis. Mall mengatur emosi konsumen dengan memberi cahaya, keceriaan dan lingkungan menarik. Anak – anak diberi perhatian khusus dan anak – anak ini dapat dideskripsikan tumbuh dalam lingkungan yang terkontrol. Kontrol yang bahkan lebih kuat diterapkan atas karyawan / pegawai yang dianggap sebagai tawaran mall.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran Duta Mall membuka peluang kerja bagi masyarakat Banjarmasin. Pekerjaan yang ditawarkan bermacam- macam sesuai dengan tingkat pendidikan dan keahlian dan kebersihan saja yang diperlukan banyak pegawai cleaning service. Ditambah lagi banyaknya counter – counter atau toko – toko dari lantai satu sampai lantai empat yang membuat penawaran pekerjaan semakin meningkat. Bila berani berspekulasi, mungkin orang – orang yang bekerja di Duta Mall mencapai seribu orang. Biasanya orang – orang yang bekerja atau pegawai Duta Mall menggunakan seragam sebagai identitas diri mereka sebagai pegawai masing – masing toko, hal ini bisa dilihat apabila kita datang ke Duta mall, kita bisa melihat di setiap lantai yang bermacam – macam toko begitu juga dengan pegawainya yang mengguankan seragam pribadi tokonya untuk menunjukkan identitas mereka bahwa mereka adalah pegawai dari toko mereka. Karena ada banyak toko disana maka diperlukan identitas dari pegawai Duta Mall. Keindahan, kebersihan, keamanan dan kenyamanan merupakan pelayanan yang diberikan oleh pihak pengelola Duta Mall. Oleh karena itu sangat wajar bila para pegawai wanita berdandan secantik dan semenarik mungkin, begitu juga dengan pria dianjurkan untuk berpenampilan rapi dan menarik karena hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Pengunjung datang ke Duta Mall bukan hanya untuk langsung membeli barang atau jasa yang ditawarkan tetapi pengunjung hanya bisa cuci – cuci mata dan melihat - melihat yang menurut mereka sangat menarik.
Bila berbicara tentang apa saja yang ada di Duta Mall, maka akan sangat sulit untuk menjawabnya karena beragamnya barang – barang dan jasa yang ditawarkan di sana. Semua ada di Duta Mall mulai dari perawatan ujung rambut sampai ujung kaki, urusan perut, sampai hiburan untuk memenangkan pikiran dan mengatasi kepenatan setelah sibuk bekerja ada disana. Yang paling populer dikalngan remaja mungkin Bioskop 21, bagi kalangan ibu – ibu Hypermart merupakan tempat tujuan, anak – anak akan sangat betah berlama – lama di Amazone dan banyak lagi tempat – tempat tujuan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu – satu. Para pengusaha Duta Mall sangat pintar dalam memanajemen Duta Mall dengan menjanjikan begitu banyak kesenangan dan kemewahan dalam segi pelayanan bagi semua pelanggan atau pengunjung, baik itu semua usia dan semua lapisan masyarakat.
Sebenarnya sebelum terjadi kerusuhan menjelang reformasi pada tahun 1998, Banjarmasin telah memiliki Plaza Mitra. Namun Plaza Mitra menjadi sasaran amuk masa, dibakar dan dihancurkan. Baru pada tahun 2006 setelah di bukanya Duta Mall, rasa kehilangan masyarakat Kota Banjarmasin akan Plaza Mitra dapat terobati , bahkan Duta Mall menjanjikan hal – hal yang lebih megah dibanding Plaza Mitra. Bioskop 21 yang dinanti – nanti para remaja dulu ada di Plaza Mitra, tetapi sejak Plaza Mitra tiada, para remaja Banjarmasin seperti di daerah – daerah lain. Apalagi bangkitnya perfilmn Indonesia menambah antusiasme remaja untuk menonton film di bioskop karena film – film yang ditawarkan ada banyak dan bagus – bagus. Sehingga saat Duta Mall hadir dengan menawarkan salah satu hiburan yaitu bioskop 21, maka para remaja pun menyerbu tempat tersebut dengan antusias yang tinggi.
Menurut teori perilaku, perilaku seseorang bisa mempengaruhi perilaku kelompok. Begitu juga sebaliknya, perilaku kelompok bisa mempengaruhi perilaku individu dalam kelompok tersebut. Misalnya saja kita ambil dalam kasus Duta Mall ini, perilaku pengunjung Mall kadang kala meniru datau sama dengan pengunjung lainnya. Seseorang mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain supaya terlihat lebih keren dan Oke. Sesungguhnya hal tersebut tidak salah, karena seseorang berhak untuk berpenampilan lebih baik dan mendapatkan perhatian. Namun bila yang ditiru adalah perilaku yang buruk atau penampilan yang seronok, maka hal tersebut menjadi salah.
Ada beberapa pertanyaan yang diajukan dalam melihat fenomena kehadiran Duta Mall antara lain : mengapa pengunjung Duta Mall biasanya berpenampilan keren atau necis? Mengapa tidak ada tawar menawar dalam proses jual beli dalam Duta Mall? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang ada dalam benak kita. Menjawab pertanyaan yang pertama, tentu saja pengunjung Duta Mall berpenampilan ”necis” karena mereka merasa memasuki wilayah yang eksklusif / berkelas dalam pandangan mereka sehingga perlu adanya berdandan yang terbaik, mungkin juga ada tujuan untuk menarik lawan jenis dan menaikkan gengsi. Sesungguhnya itu wajar selama masih berada dalam tahap kesopanan, karena Banjarmasin berbeda dengan Jakarta yang merupakan kota Metropolitan yang disana terdapat banyak Mall, yang pergaulan dan cara berpakaiannya sudah ke barat – baratan bila berjalan – jalan ke Mall tidak pantas. Jangan sampai salah kostum. Niat ingin keren tetapi ternyata ”malu – maluin” atau jadi bahan cibiran orang – orang atau pengunjung lain bila berperilaku atau berpakaian seronok. Menjawab pertanyaan yang kedua, mengapa tidak ada tawar – menawar di mall? Sebenarnya ada sebagian atau sedikit toko yang melakukan tawar – menawar, tetapi untuk produk – produk yang telah berlabel harga tentu saja tidak dapat ditawar, karena prosedur yang ada memang seperti itu. Bila ingin melakukan tawafr – menawar dalam proses jual beli, maka tidak perlu pergi ke mall, tetapi pergi saja ke pasar – pasar tradisional yang telah sejak lama terdapat budaya tawar – menawar disana. Kita mempunyai banyak pilihan.
Disamping kebaikan – kebaikan yang disediakan Duta Mall, ternyata terdapat juga kontroversi yang menyelimuti kehadiran Duta Mall. Kontroversi tersebut datang dari ahli – ahli tata kota dan kaum aktivis pengamat yang melakukan riset bahwa tata letak Duta Mall tidak strategis dan menganggu fungsi tata kota. Terlihat sekali di depan jalan raya sangat semrawut karena banyaknya ojek – ojek dan taksi kuning yang sering berhenti. Karena merupakan sasaran bagi orang – orang yang membutuhkan transportasi untuk pulang ke rumah mereka. Padahal ini sangat mengganggu para pengendara di jalan raya yang kadang – kadang belok dadakan, dan ini juga mengakibatkan kemacetan.
Berkaitan dengan Teori Mc Donaldisasi dan Alat Konsumsi Baru
A. Pendahuluan
Teori Mc Donaldization merupakan sasaran perhatian yang semata – mata hanya tertuju pada rasionalitas formal dan fakta bahwa restoran cepat saji / fast food mencerminkan paradigma kehidupan masa kini dari rasionalitas formal,dimana system rasionalitas cenderung lebih mengutamakan pada kuantitas, biasanya kuantitas lebih besar ketimbang kualitas.
Bila kita menyamakan rasionalitas formal dengan modernitas, maka kesuksesan dan penyebaran restoran cepat saji maupun derajat penerimaannya yang menjadi model pelayanan di berbagai sector kehidupan bermasyarakat yang lain menunjukkan bahwa kita masih terus hidup dalam dunia modern.
Ritzer (1999) belakangan ini telah membahas munculnya “alat konsumsi baru” di Amerika Serikat sepanjang lebih dari setengah abad sejak akhir PD II MC. Donald C dan industri fast food pada umumnya adalah salah satu dari alat konsumsi yang baru, selain alat – alat lainnya seperti mall, mega mall, superstore (misalnya toys “R” us) dis counter (wal mart), saluran hiburan hotel, kasino Las Vegas, taman bertemakan ada Disney, dsb.
Konsep arti baru konsumsi diturunkan dari karya Karl Marx. Akan tetapi seperti teoritisi modern lainnya, Marx terutama memfokuskan pada produksi yaitu dia mempunyai bias produksi. Berdasarkan realitas yang dihadapnya – masa awal – awal revolusi industri dan kapitalisme – fokus pada produksi pada umumnya dan alat – alat produksi pada khususnya dapat dipahami. Akan tetapi, di tahun – tahun belakangan ini, sepanjang produksi dan konsumsi dapat dipilih dengan tegas, produksi telah tumbuh menjadi kurang penting, sedang konsumsi menjadi semakin penting. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh arus globalisasi dan modernisasi yang menyediakan semua barang maupun jasa secara instan. Tingginya tekhnologi juga mengakibatkan munculnya alat – alat otomatis yang disengaja dibuat untuk membantu manusia dalam kehidupan baik itu pada sisi bekerja atau pun memuaskan kebutuhan hidup mereka.
Paradigma Baudrillard tentang alat – alat konsumsi adalah “drugstore” Paris. Di bawah ini deskripsinya tentang toko obat Paris:
”semua yang menyerupai farmasi Amerika diselipkan ke pojokan, selebihnya adalah seperti departement store mini dengan segala barang mulai dari buku sampai kamera, mainan, koran dan majalah Perancis dan asing, baju dan barang – barang laku seperti salad, minuman ringan, telur ikan, pate de fole gras dan keranjang piknik. Kafe di luar toko obat (Le Drugstore) menawarkan menu yang diklaim ”asli” Amerika (Rothenberg dan Rothenberg, 1993 : 38)
”Toko obat” Paris itu jelas merupakan alat – alat konsumsi karena ia adalah sebuah alat, suatu struktur ekonomi dan sosial yang membuat konsumen dapat memperoleh beraneka macam komoditas, tetapi ini hanyalah titik awal Baudrilland. Dalam konteks ini dia mendeskripsikan sebuah komunitas, Parly 2 dengan pusat perbelanjaan, kolam renang, club house dan pembangunan perumahan. Pusat perbelanjaan adalah contoh dari alat – alat konsumsi baru, contoh lainnya yang didiskusikan oleh Boudrilland adalah tempat hiburan (resort ski, club med) dan bandara. Dalam kenyataannya, dewasa ini toko obat itu telah diganti dengan jenis – jenis alat konsumsi baru yang menjadi perhatian kita disini restoran fastfood, toserba, euro Disney,dsb meski demikian pemahaman Baudrilland tentang alat – alat konsumsi adalah yang terdekat dengan ciri konsep itu sangat rasional atau ter-Mc. Donalisasi-kan .
B. Hasil Lapangan
Duta Mall yang terletak di Jl.A. Yani Km 2 merupakan lat konsumsi baru di Kota Banjarmasin . Duta Mall yang luasnya hampir empat hektar yang rencananya juga akan di bangun hotel dan apartemen sekarang menjadi satu – satunya pusat perbelanjaan modern, pertama terbesar, terlengkap dan termegah di Banjarmasin. Ini merupakan sasaran yang rasionalitas yang orientasinya mengarah modernisasi. Sehingga tak heran kalau Duta Mall menjadi sasaran perhatian bagi masyarakat baik muda atau pun tua serta anak– anak entah pengunjungnya berasal dari daerah setempat atau berada di luar daerah.
Duta Mall mempunyai fasilitas dan keunggulan yang mendukung, dimana TRADE MALL ( Trade Center Mall ) Pertama terbesar, terlengkap dengan hadirnya hypermart dan Diamond Dept. Store, hiburan keluarga Cineplex Studio 21, Toko Buku Gramedia, Kharisma, Food Court Tradisional, National dan International, bakery & snack yang dirancang khusus untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat juga tersedia Pusat handphone, elektronik, komputer, pusat perhiasan emas, cinderamata dan kerajinan tangan batik sasirangan, busana muslim, game AMAZONE, optik melawai, SEIS, International Apotik Farmasi Century, guardian, Boston Drugs, dan lain-lain. Dengan harga ringan ( Bisa diangsur ) Harga terjangkau dengan cara pembayaran yang ringan dengan angsuran KPK (Kredit Pemilikan Kios) dengan status Kepemilikan Toko Strata Title ( HGB) lokasi pusat strategi di Kota yang terletak di Jalan Jend. A. Yani KM 2 pusat kota Banjarmasin mudah diakses dari segala penjuru kota sari dalam maupun luar kota. Tersedianya sarana gedung parkir yang sangat luas, bisa menampung 1,500 unit mobil dan 5,000 unit sepeda motor yang dikelola secara professional dan terjamin keamanannya dengan management professional Semua aktivitas operasional dikelola oleh Team management yang sudah sangat berpengalaman dan memiliki reputasi Nasional maupun International.
Duta Mall juga menawarkan berbagai bentuk fashion dan hiburan yang merupakan daya tarik bagi masyarakat Banjarmasin untuk selalu dapat mengunjunginya. Tiap kali kita memasuki Duta Mall kita akan diperiksa oleh satpam setempat yang berdiri stand by di pintu yang merupakan suatu sikap dari bentuk keamanan dari pelayanan yang diberikan oleh pihak pengelola Duta Mall agar orang – orang yang mengujungi Duta Mall akan merasa aman dan nyaman tanpa ada kriminalitas di dalamnya. Kita tidak perlu lagi capek – capek jalan naik tangga karena telah tersedianya escalator atau tangga berjalan sehingga membuat pelanggan merasa nyaman dan santai karena tidak mengeluarkan keringat untuk menaiki tangga. Namun sayangnya, di Duta Mall belum terlihat adanya lift transparan seperti di Mall – Mall lainnya yang ada di Jakarta.
BIla kita memasuki gedung Duta Mall maka kita sendiri akan lupa waktu karena dari dalam gedung Duta Mall kita tidak tau keadaan dan kondisi di luar sana, hujan atau panas masih siang atau sudah malam, sebab di dalam gedung terasa nyaman, aman, sejuk dan menyenangkan, hari terasa siang terus karena lampu terang benderan. Entah apa tujuan dari teknik manajeman Duta Mall untuk tidak memasang jam dinding. Hanya saja penulis menspekulasikan agar para pelanggan lupa waktu dan selalu berada di dalamnya.
Duta Mall yang terdiri dari empat lantai mempunyai daya tarik sehingga semua orang tak bosan untuk selalu mengunjunginya, adapun setiap lantai diisi dengan variasi yang berbeda – beda:
a. Lantai dasar atau lantai pertama diisi dengan pernak – pernik seperti kaca mata, jam tangan, selular shop, mainan anak – anak, sepatu, sandal, busana – busana buat dari anak – anak, remaja dan orang tua, cinderamata, batik, sasirangan dan lain – lainnya dengan harga yang terjangkau dan kebanyakan disewa oleh investor / pedagang local kota Banjarmasin. Disini para penjual disusun dengan tanpa ruang atau batas sehingga seolah – olah terlihat membaur dengan toko satu dengan yang lainnya.
b. Lantai dua, diisi dengan toko – toko yang beruang atau adanya pembatas. Di lantai dua ini kita akan menemui toko – toko yang menjual alat – alat olah raga (fitness), Hypermart yang merupakan sasaran ibu – ibu rumah tangga yang menjual barang – barang rumah tangga dan kebutuhan – kebutuhan hidup yang terkadang lebih murah dibandingkan di pasar, toko – toko kosmetik, optic, took baju dan sepatu dan lain – lain. Di lantai ini pun terdapat juga toko fast food yaitu A&W, KFC, Bread Life dan Texas.
c. Lantai tiga, toko – toko disusun dengan adanya ruang atau batasan sama halnya dengan lantai dua. Di lantai ketiga ini dipenuhi oleh toko – toko pakaian yang bermerek yang harganya ratusan ribu keatas seperti toko baju remaja 61, Matahari, Ray Surf, adanya toko buku Gramedia, toko sepatu Bata. Serta dilengkapi dengan restaurant – restaurant yang desain luarnya sangat menarik perhatian orang – orang tentunya pula dengan harga yang mahal.
d. Lantai empat, merupakan yang paling dipenuhi oleh orang orang. Di lantai empat ini terdapat mainan Amazone yang menjadi sasaran minat bagi anak – anak, remaja, maupun orang tua. Kemudian disebelah kananya tersedia fast food (food court) yang digunakan sekitar 25 depot makanan lokal dan nasional dengan harga yang terjangkau dan disebelah kiri ada tempat keluarga yaitu Cineplex 21 yang merupakan sasaran anak – anak remaja. Ada juga toko – toko pernak – pernik yang melengkapi semua kebutuhan para cewek dan juga toko – toko baju merek luar negeri.
Setiap alat konsumsi baru selalu meliputi empat hal yaitu, efisiensi, kalkubilitas, prediktabilitas dan kontrol dari tekhnologi non manusia bisa diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Efesiensi, Mall misalnya, dapat dideskripsikan sebagai mesin penjualan yang sangat efisien. Ini pada gilirannya menjadikannya ”mesin pembelian” yang sangat efisien dari perspektif konsumen. Konsumsi jelas dibuat lebih efisien untuk konsumen karena tersedia semua jenis toko dalam satu tempat yang juga punya tempat parkir berdekatan yang luas efisiensi yang sama yang juga disediakan oleh superstone bagi konsumen yang mencari jenis produk tertentu. Begitu juga dengan Duta Mall, adanya parkiran kendaran motor ataupun mobil yang disediakan yang berdekatan dengan pintu masuk Mall.
2. Kalkubilitas, di departemen store berdiskon, termasuk wal mart, konsumen dibuat percaya bahwa mereka dapat mengandalkan tiga hal yang dapat dikuantifikasi yaitu harga murah, jumlah barang yang banyak dan keanekaragaman jenis barang. Mereka juga percaya dengan diskon yang diberikan Mall, meskipun diskon itu sering kali hanya tipuan. Contohnya adalah Hypermat yang mempunyai moto diskon hingga sepuluh persen membuat para ibu – ibu rumah tangga saling berlomba – lomba untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Dengan menempel atau menggantungkan tulisan ”Harga Murah” semua orang akan membeli produk tersebut. Bukan hanya Hypermart, Matahari, Ramayana dan Hero pun juga begitu. Adapun pihak manajemen mengeluarkan barang dengan murah atau berdiskon adalah mungkin barang produksi telah mendekati tanggal kadaluarsa, masih promosi barang baru atau pun stok yang sudah tidak laku lagi di pasaran.
3. Prediktabilitas. Prediktabilitas yang dijumpai pada Mc. Donald tampak jelas dalam jaringan kafe seperti Hard Rock. Misalnya menu, rasa makanan. bahkan gitar yang dipajang di dinding adalah sama, entah itu di Osaka, Berlin atau San Fransisco. Di Duta Mall mempunyai restoran atau kafe agar para pelanggan untuk mengatasi urusan perut dengan segera tanpa harus keluar dari Mall. Ini juga merupakan taktik dari pihak manajemen Mall agar para pelanggan tetap selalu berada di dalamnya, sehingga Mall tidak kosong.
4. Kontrol melalui Tekhnologi Non Manusia, bukannya Tekhnologi manusia, Mall perbelanjaan dapat dilihat sebagai sesuatu yang sangat dikontrol secara tekhnologi di semua aspek dari operasinya. Kontrol ketat menackup suh, lampu, acara dan barang dagangan. Tujuannya adalah untuk mengontrol konsumen. Ruang dan waktu dikontrol dengan mendesain Mall tanpa jendela, hanya ada sedikit tanda pintu keluar, keseragaman Mall berarti mereka dapat berada dimana saja, dalam banyak kasus tidak ada jam di Mall, pemeliharaan dan penyusunan ulang periodik membuat Mall tidak pernah tua, ada ilusi kesempurnaan Mall konsumen berkeliaran berjam – jam di Mall tanpa menyadari berlalunya waktu. Dengan menciptakan keadaan ini, Mall memungkinkan konsumen bertemu dengan banyak toko dan melihat lebih banyak barang dan jasa dan membeli lebih banyak. Mall mengontrol apa- apa yang kita beli bukan dengan cara menetapkan apa yang ada dan apa yang tidak ada, tetapi jangan dengan menggunakan prinsip – prinsip ”daya tarik yang berdekatan” (adjacent attraction), dimana objek – objek yang biasa saja dibikin tampak lebih menarik dengan menempatkannya di sekililing objek yang berbeda dan lebih eksotis. Mall mengatur emosi konsumen dengan memberi cahaya, keceriaan dan lingkungan menarik. Anak – anak diberi perhatian khusus dan anak – anak ini dapat dideskripsikan tumbuh dalam lingkungan yang terkontrol. Kontrol yang bahkan lebih kuat diterapkan atas karyawan / pegawai yang dianggap sebagai tawaran mall.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran Duta Mall membuka peluang kerja bagi masyarakat Banjarmasin. Pekerjaan yang ditawarkan bermacam- macam sesuai dengan tingkat pendidikan dan keahlian dan kebersihan saja yang diperlukan banyak pegawai cleaning service. Ditambah lagi banyaknya counter – counter atau toko – toko dari lantai satu sampai lantai empat yang membuat penawaran pekerjaan semakin meningkat. Bila berani berspekulasi, mungkin orang – orang yang bekerja di Duta Mall mencapai seribu orang. Biasanya orang – orang yang bekerja atau pegawai Duta Mall menggunakan seragam sebagai identitas diri mereka sebagai pegawai masing – masing toko, hal ini bisa dilihat apabila kita datang ke Duta mall, kita bisa melihat di setiap lantai yang bermacam – macam toko begitu juga dengan pegawainya yang mengguankan seragam pribadi tokonya untuk menunjukkan identitas mereka bahwa mereka adalah pegawai dari toko mereka. Karena ada banyak toko disana maka diperlukan identitas dari pegawai Duta Mall. Keindahan, kebersihan, keamanan dan kenyamanan merupakan pelayanan yang diberikan oleh pihak pengelola Duta Mall. Oleh karena itu sangat wajar bila para pegawai wanita berdandan secantik dan semenarik mungkin, begitu juga dengan pria dianjurkan untuk berpenampilan rapi dan menarik karena hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Pengunjung datang ke Duta Mall bukan hanya untuk langsung membeli barang atau jasa yang ditawarkan tetapi pengunjung hanya bisa cuci – cuci mata dan melihat - melihat yang menurut mereka sangat menarik.
Bila berbicara tentang apa saja yang ada di Duta Mall, maka akan sangat sulit untuk menjawabnya karena beragamnya barang – barang dan jasa yang ditawarkan di sana. Semua ada di Duta Mall mulai dari perawatan ujung rambut sampai ujung kaki, urusan perut, sampai hiburan untuk memenangkan pikiran dan mengatasi kepenatan setelah sibuk bekerja ada disana. Yang paling populer dikalngan remaja mungkin Bioskop 21, bagi kalangan ibu – ibu Hypermart merupakan tempat tujuan, anak – anak akan sangat betah berlama – lama di Amazone dan banyak lagi tempat – tempat tujuan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu – satu. Para pengusaha Duta Mall sangat pintar dalam memanajemen Duta Mall dengan menjanjikan begitu banyak kesenangan dan kemewahan dalam segi pelayanan bagi semua pelanggan atau pengunjung, baik itu semua usia dan semua lapisan masyarakat.
Sebenarnya sebelum terjadi kerusuhan menjelang reformasi pada tahun 1998, Banjarmasin telah memiliki Plaza Mitra. Namun Plaza Mitra menjadi sasaran amuk masa, dibakar dan dihancurkan. Baru pada tahun 2006 setelah di bukanya Duta Mall, rasa kehilangan masyarakat Kota Banjarmasin akan Plaza Mitra dapat terobati , bahkan Duta Mall menjanjikan hal – hal yang lebih megah dibanding Plaza Mitra. Bioskop 21 yang dinanti – nanti para remaja dulu ada di Plaza Mitra, tetapi sejak Plaza Mitra tiada, para remaja Banjarmasin seperti di daerah – daerah lain. Apalagi bangkitnya perfilmn Indonesia menambah antusiasme remaja untuk menonton film di bioskop karena film – film yang ditawarkan ada banyak dan bagus – bagus. Sehingga saat Duta Mall hadir dengan menawarkan salah satu hiburan yaitu bioskop 21, maka para remaja pun menyerbu tempat tersebut dengan antusias yang tinggi.
Menurut teori perilaku, perilaku seseorang bisa mempengaruhi perilaku kelompok. Begitu juga sebaliknya, perilaku kelompok bisa mempengaruhi perilaku individu dalam kelompok tersebut. Misalnya saja kita ambil dalam kasus Duta Mall ini, perilaku pengunjung Mall kadang kala meniru datau sama dengan pengunjung lainnya. Seseorang mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain supaya terlihat lebih keren dan Oke. Sesungguhnya hal tersebut tidak salah, karena seseorang berhak untuk berpenampilan lebih baik dan mendapatkan perhatian. Namun bila yang ditiru adalah perilaku yang buruk atau penampilan yang seronok, maka hal tersebut menjadi salah.
Ada beberapa pertanyaan yang diajukan dalam melihat fenomena kehadiran Duta Mall antara lain : mengapa pengunjung Duta Mall biasanya berpenampilan keren atau necis? Mengapa tidak ada tawar menawar dalam proses jual beli dalam Duta Mall? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang ada dalam benak kita. Menjawab pertanyaan yang pertama, tentu saja pengunjung Duta Mall berpenampilan ”necis” karena mereka merasa memasuki wilayah yang eksklusif / berkelas dalam pandangan mereka sehingga perlu adanya berdandan yang terbaik, mungkin juga ada tujuan untuk menarik lawan jenis dan menaikkan gengsi. Sesungguhnya itu wajar selama masih berada dalam tahap kesopanan, karena Banjarmasin berbeda dengan Jakarta yang merupakan kota Metropolitan yang disana terdapat banyak Mall, yang pergaulan dan cara berpakaiannya sudah ke barat – baratan bila berjalan – jalan ke Mall tidak pantas. Jangan sampai salah kostum. Niat ingin keren tetapi ternyata ”malu – maluin” atau jadi bahan cibiran orang – orang atau pengunjung lain bila berperilaku atau berpakaian seronok. Menjawab pertanyaan yang kedua, mengapa tidak ada tawar – menawar di mall? Sebenarnya ada sebagian atau sedikit toko yang melakukan tawar – menawar, tetapi untuk produk – produk yang telah berlabel harga tentu saja tidak dapat ditawar, karena prosedur yang ada memang seperti itu. Bila ingin melakukan tawafr – menawar dalam proses jual beli, maka tidak perlu pergi ke mall, tetapi pergi saja ke pasar – pasar tradisional yang telah sejak lama terdapat budaya tawar – menawar disana. Kita mempunyai banyak pilihan.
Disamping kebaikan – kebaikan yang disediakan Duta Mall, ternyata terdapat juga kontroversi yang menyelimuti kehadiran Duta Mall. Kontroversi tersebut datang dari ahli – ahli tata kota dan kaum aktivis pengamat yang melakukan riset bahwa tata letak Duta Mall tidak strategis dan menganggu fungsi tata kota. Terlihat sekali di depan jalan raya sangat semrawut karena banyaknya ojek – ojek dan taksi kuning yang sering berhenti. Karena merupakan sasaran bagi orang – orang yang membutuhkan transportasi untuk pulang ke rumah mereka. Padahal ini sangat mengganggu para pengendara di jalan raya yang kadang – kadang belok dadakan, dan ini juga mengakibatkan kemacetan.
Fenomena kelompok anak muda bergaya punk
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Dalam kehidupan modernisasi yang pola hidupnya terarah tidak dipungkiri menimbulkan kelompok – kelompok social dalam masyarakat. Kelompok – kelompok social dalam masyarakat terjadi karena adanya persamaan tujuan atau senasib dari masing – masing individu. Kelompok - kelompok social ini tidak hanya terjadi pada orang – orang yang bekerja dalam segi ekonomi, politik dan budaya tetapi akhir – akhir ini muncul kelompok – kelompok social yang dibentuk oleh sekelompok anak muda yang ternyata menjadi masalah generasi muda.
Masalah generasi muda pada umumnya ditandai oleh dua ciri yang berlawanan yakni, keinginan untuk melawan (misalnya dalam bentuk radikalisme, delinkuensi dan sebagainya) dan sikap yang apatis (misalnya penyesuaian yang membabi buta terhadap ukuran moral generasi tua). Sikap melawan mungkin disertai dengan suatu rasa takut bahwa masyarakat akan hancur karena perbuatan – perbuatan yang menyimpang. Sedangkan sikap apatis biasanya disertai dengan rasa kecewa terhadap masyarakat. Generasi muda biasanya mennghadapi masalah social dan biologis. Apabila seseorang mencapai usia remaja, secara fisik dia telah matang, tetapi untuk dapat dikatakan dewasa dalam arti social masih diperlukan factor – factor lainya.
Masa remaja dikatakan sebagai suatu masa yang berbahaya karena pada periode itu, seseorang meninggalkan tahap kehidupan anak – anak, untuk menuju ke tahap selanjutnya yaitu tahap kedewasaan. Masa ini dirasakan sebagai suatu krisis karena belum adanya pegangan, sedangkan kepribadiannya sedang mengalami pembentukan. Generasi muda sangat diperlukan belajar mengenai nilai dan norma –norma masyarakatnya. Pada masyarakat bersahaja hal itu tidak jadi masalah, karena anak memperoleh pendidikan dalam lingkungan kelompok kekerabatan. Perbedaan kedewasaan sosial dengan kematangan biologis tidak terlalu mencolok, posisinya dalam masyarakat antara lain ditentukan oleh usia.
Di kota – kota besar Indonesia, misalnya di Banjarmasin sekarang ini bermunculan sekelompok generasi muda yang mempunyai gaya hidup yang sangat menyimpang dari norma – norma masyarakat setempat, sekelompok generasi muda itu disebut dengan anak punk. Gaya hidup ialah relatif tidak ada seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya Gaya hidup berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan situasi maka punk kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek "jor-joran" yaitu memanfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita. Dengan kata lain punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.
Gaya hidup yang anarkis yang membuat mereka merasa mendapat kebebasan. Adapun yang mengatakan bahwa sekelompok anak muda bergaya hidup punk dikarenakan adanya suatu gejala perasaan yang tidak puas, sehingga mereka mengubah gaya hidup mereka dengan gaya hidup punk. Namun kenyataannya gaya hidup punk ternyata membuat masyarakat Kota Banjarmasin resah dan sebagian lagi menganggap dari gaya hidup yang mengarah ke barat – baratan. Sehingga penulis membuat suatu makalah fenomena kelompok social yaitu fenomena anak punk yang sekarang memang menjadi masalah kelompok generasi muda dalam modernisasi.
1.2Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan masalah, sebagai berikut:
1.Sejarah Pengertian gaya hidup dan ideology Punk?
2.Jenis – Jenis gaya hidup Punk?
3.Fenomena sekelompok anak muda bergaya hidup Punk?
1.3Tujuan Makalah
Adapun makalah ini dibuat mempunyai tujuan sebagai berikut:
1.Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sosiologi
2.Untuk mendapatkan nilai yang sempurna
3.Untuk menambah wawasan dalam menghadapi masalah kelompok sosial dalam masyarakat
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Pengertian Gaya Hidup dan Ideologi Punk
Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.
Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.
Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.
Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.
Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.
Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).
Dengan definisi diatas, punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas).
Punk selanjutnya berkembang sebagai buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.
Akibatnya punk dicap sebagai musik rock n’ roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi. Perusahaan-perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.
Gaya hidup ialah relatif tidak ada seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya. Ideologi diambil dari kata “ideas” dan “logos” yang berarti buah pikiran murni dalam kehidupan. Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan situasi maka punk kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek “jor-joran” yaitu manfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita. Dengan kata lain punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.
Punk dan Anarkisme
Kegagalan Reaganomic dan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam di tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia punk pada saat itu. Band-band punk gelombang kedua (1980-1984), seperti Crass, Conflict, dan Discharge dari Inggris, The Ex dan BGK dari Belanda, MDC dan Dead Kennedys dari Amerika telah mengubah kaum punk menjadi pemendam jiwa pemberontak (rebellious thinkers) daripada sekadar pemuja rock n’ roll. Ideologi anarkisme yang pernah diusung oleh band-band punk gelombang pertama (1972-1978), antara lain *** Pistols dan The Clash, dipandang sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat, maupun industri musik.
Di Indonesia, istilah anarki, anarkis atau anarkisme digunakan oleh media massa untuk menyatakan suatu tindakan perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Padahal menurut para pencetusnya, yaitu William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail Bakunin, anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri.
Negara menetapkan pemberlakuan hukum dan peraturan yang sering kali bersifat pemaksaan, sehingga membatasi warga negara untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kaum anarkis berkeyakinan bila dominasi negara atas rakyat terhapuskan, hak untuk memanfaatkan kekayaan alam dan sumber daya manusia akan berkembang dengan sendirinya. Rakyat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara.
Kaum punk memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka. Punk etika semacam inilah yang lazim disebut DIY (do it yourself/lakukan sendiri).
Keterlibatan kaum punk dalam ideologi anarkisme ini akhirnya memberikan warna baru dalam ideologi anarkisme itu sendiri, karena punk memiliki ke-khasan tersendiri dalam gerakannya. Gerakan punk yang mengusung anarkisme sebagai ideologi lazim disebut dengan gerakan Anarko-punk.
2.2 Jenis – Jenis Gaya Hidup Punk
Gaya hidup punk mempunyai keanekaragaman komunitas yaitu:
a.Anarcho Punk
Komunitas Punk yang satu ini memang termasuk salah satu komunitas yang sangat keras. Bisa dibilang mereka sangat menutup diri dengan orang-orang lainnya, kekerasan nampaknya memang sudah menjadi bagiandari kehidupan mereka. Tidak jarang mereka juga terlibat bentrokan dengan sesama komunitas Punk yang lainnya.
Anarcho Punk juga sangat idealis dengan ideologi yang mereka anut. Ideologi yang mereka anut diantaranya, Anti Authoritarianism dan Anti Capitalist.Crass, Conflict, Flux Of Pink Indians merupakan sebagian band yang berasal dari Anarcho Punk.
b.Crust Punk
Jika Anda berpikir bahwa Anarcho Punk merupakan komunitas Punk yang sangat brutal, maka Anda harus menyimak yang satu ini. Crust Punk sendiri sudah diklaim oleh para komunitas Punk yang lainnya sebagai komunitas Punk yang paling brutal. Para penganut dari faham ini biasa disebut dengan Crusties. Para Crusties tersebut sering melakukan berbagai macam pemberontakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Musik yang mereka mainkan merupakan penggabungan dari musik Anarcho Punk dengan Heavy Metal. Para Crusties tersebut merupakan orang-orang yang anti sosial, mereka hanya mau bersosialisasi dengan sesama Crusties saja.
c.Glam Punk
Para anggota dari komunitas ini merupakan para seniman. Apa yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari sering mereka tuangkan sendiri dalam berbagai macam karya seni. Mereka benar-benar sangat menjauhi perselisihan dengan sesama komunitas atau pun dengan orang-orang lainnya.
d.Hard Core Punk
Hard Core Punk mulai berkembang pada tahun 1980an di Amerika Serikat bagian utara. Musik dengan nuansa Punk Rock dengan beat-beat yang cepat menjadi musik wajib mereka. Jiwa pemberontakan juga sangat kental dalam kehidupan mereka sehari-hari, terkadang sesama anggota pun mereka sering bermasalah.
e.Nazi Punk
Dari sekian banyaknya komunitas Punk, mungkin Nazi Punk ini merupakan sebuah komunitas yang benar-benar masih murni. Faham Nazi benar-benar kental mengalir di jiwa para anggotanya. Nazi Punk ini sendiri mulai berkembang di Inggris pada tahun 1970an akhir dan dengan sangat cepat menyebar ke Amerika Serikat. Untuk musiknya sendiri, mereka menamakannya Rock Against Communism dan Hate Core.
f. The Oi
The Oi atau Street Punk ini biasanya terdiri dari para Hooligan yang sering membuat keonaran dimana-mana, terlebih lagi di setiap pertandingan sepak bola. Para anggotanya sendiri biasa disebut dengan nama Skinheads. Para Skinheads ini sendiri menganut prinsip kerja keras itu wajib, jadi walaupun sering membuat kerusuhan mereka juga masih memikirkan kelangsungan hidup mereka. Untuk urusan bermusik, para Skinheads ini lebih berani mengekspresikan musiknya tersebut dibandingakan dengan komunitas-komunitas Punk yang lainnya. Para Skinheads ini sendiri sering bermasalah dengan Anarcho Punk dan Crust Punk.
g. Queer Core
Komunitas Punk yang satu ini memang sangat aneh, anggotanya sendiri terdiri dari orang-orang “sakit”, yaitu para lesbian, homoseksual, biseksual dan para transexual. Walaupun terdiri dari orang-orang “sakit”, namun komunitas ini bisa menjadi bahaya jika ada yang berani mengganggu mereka. Dalam kehidupan, anggota dari komunitas ini jauh lebih tertutup dibandingkan dengan komunitas-komunitas Punk yang lainnya. Queer Core ini sendiri merupakan hasil perpecahan dari Hard Core Punk pada tahun 1985.
h.Riot Grrrl
Riot Grrrl ini mulai terbentuk pada tahun 1991, anggotanya ialah para wanita yang keluar dari Hard Core Punk. Anggota ini sendiri juga tidak mau bergaul selain dengan wanita. Biasanya para anggotanya sendiri berasal dari Seattle, Olympia dan Washington DC.
i. Scum Punk
Jika Anda tertarik dengan Punk, mungkin ini salah satu komunitas yang layak untuk diikuti. Scum Punk menamakan anggotanya dengan sebutan Straight Edge Scene. Mereka benar-benar mengutamakan kenyamanan, kebersihan, kebaikan moral dan kesehatan. Banyak anggota dari Scum Punk yang sama sekali tidak mengkonsumsi zat-zat yang dapat merusak tubuh mereka sendiri.
j. The Skate Punk
Skate Punk memang masih erat hubungannya dengan Hard Core Punk dalam bermusik. Komunitas ini berkembang pesat di daerah Venice Beach California. Para anggota komunitas ini biasanya sangat mencintai skate board dan surfing.
k. Ska Punk
Ska Pun merupakan sebuah penggabungan yang sangat menarik antara Punk dengan musik asal Jamaica yang biasa disebut reggae. Mereka juga memiliki jenis tarian tersendiri yang biasa mereka sebut dengan Skanking atau Pogo, tarian enerjik ini sangat sesuai dengan musik dari Ska Punk yang memilikibeat-beat yang sangat cepat.
l. Punk Fashion
Para Punkers biasanya memiliki cara berpakaian yang sangat menarik, bahkan tidak sedikit masyarakat yang bukan Punkers meniru dandanan mereka ini. Terkadang gaya para Punkers ini juga digabungkan dengan gaya berbusana saat ini yang akhirnya malah merusak citra dari para Punkers itu sendiri. Untuk pakaiannya sendiri, jaket kulit dan celana kulit menjadi salah satu andalan mereka, namun ada juga Punkers yang menggunakan celana jeans yang sangat ketat dan dipadukan dengan kaos-kaos yang bertuliskan nama-nama band mereka atau kritikan terhadap pemerintah. Untuk rambut biasanya gaya spike atau mohawk menjadi andalan mereka. Untuk gaya rambut ini banyak orang - orang biasa yang mengikutinya karena memang sangat menarik, namun terkadang malah menimbulkan kesan tanggung. Body piercing, rantai dan gelang spike menjadi salah satu yang wajib mereka kenakan. Untuk sepatu, selain boots tinggi, para Punkers juga biasa menggunakan sneakers namun hanya sneakers dari Converse yang mereka kenakan.
2.3 Fenomena Anak Punk
Jumlahnya anak punk memang tidak banyak, tapi ketika mereka turun ke jalanan, setiap mata terpancing untuk melirik gaya rambutnya yang Mohawk ala suku Indian dengan warna-warna terang dan mencolok. Belum lagi atribut rantai yang tergantung di saku celana, sepatu boot Dr. Marteen, kaos hitam, jaket kulit penuh badge atau peniti, serta ‘spikes’ (gelang berbahan kulit dan besi seperti paku yang terdapat di sekelilingnya) yang menghiasi pergelangan tangannya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari busana mereka. Begitu juga dengan celana jeans super ketat hingga mata kaki yang dipadukan dengan baju lusuh, makin menguatkan kesan anti kemapanan dan antisosial pada mereka. Masyarakat mengenal mereka sebagai anak punk.
Berbekal etika DIY (do it Your Self), beberapa komunitas punk di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Malang merintis usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut distro.
CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan. Mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tatoo. Seluruh produk dijual terbatas dan dengan harga yang amat terjangkau. Dalam kerangka filosofi punk, distro adalah implementasi perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja Levi’s, Adidas, Nike, Calvin Klein, dan barang bermerek luar negeri lainnya.
Sayangnya, pandangan negatif masih menyertai setiap kehadiran anak punk. Tanpa bermaksud menyudutkan, tampilan anak-anak punk yang cenderung ‘menyeramkan’ seringkali dikaitkan dengan perilaku anarkis, brutal, vandal, bikin onar, dan semau gue. Padahal boleh jadi, itu cuma perilaku segelintir remaja yang berpenampilan nge-punk. Daripada berprasangka, mending kita coba kenal kaum punk lebih dekat. Sehingga penilaian dan sikap kita lebih objektif.
Hadirnya generasi punk nggak bisa dilepaskan dari hingar-bingar dunia musik. Konon kisah lahirnya kaum punk pun diawali dari musik. Pada 1971, Lester Bangs, wartawan majalah semi-underground Amerika, Creem, menggunakan istilah punk untuk mendeskripsikan sebuah aliran musik rock yang semrawut, asal bunyi, namun bersemangat tinggi.
Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia, menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, termasuk kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang didominasi oleh musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Akibatnya punk dicap sebagai musik rock n’ roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi, apalagi rekaman. Boro-boro! Tak hanya dalam lirik lagu, teriakan kekecewaan kaum punk juga ditunjukkan dalam berbusana. Memang bisa dikatakan sudah nggak zamannya lagi, kalo remaja -male or female- tidak diberi kebebasan dalam memilih alternatif-alternatif berbusana yang ada di hadapannya sekarang ini. ‘Kalau memang sreg dan PeDe, kenapa tidak boleh memakai sesuatu yang aneh’. Misal, memakai paku-paku, gelang baja, peniti yang penuh menghias lengan baju, rok pendek, transparan, atau seksi bagi cewek, atau baju dan celana ketat bagi cowok. Bentuk dari sikap mereka yang anarkis ini, menimbulkan semacam pendapat orang – orang bahwa anak punk merupakan suatu bentuk kebebasan yang ingin didobrak.
Kalau ditanya makna punk yang sesungguhnya belum tentu pada ngerti, buat mereka punk itu cuma dandanan, attitude sama musik keras. Sekarang punk sudah kehilangan identitasnya, ini gara gara para prudusen ngeliat style punk bisa dijual mulai dari gaya rambut sampai pakaian.
Dalam “Philosophy of Punk”, Craig O’Hara (1999) menyebut tiga definisi punk. Pertama, punk sebagai trend remaja dalam fashion dan musik. Kedua, punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan. Terakhir, punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri. Definisi pertama adalah definisi yang paling umum digambarkan oleh media. Tapi justru yang paling tidak akurat karena cuma menggambarkan kesannya saja.
Di setiap tempat, sepak terjang kaum punk mampu menjelma menjadi sebuah gaya hidup yang konsisten melawan pemaksaan ide maupun budaya oleh para kapitalis maupun negara. Yup, mereka nggak setuju banget ama yang namanya otoritas. Sehingga mereka hidup berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri.
Di kota Banjarmasin gaya anak punk sering ditemui di malam hari, mereka menggunakan pakaian kaos warna hitam dan menggunakan celana jeans belel dengan model pencil dan kentat serta menggunakan sepatu sneakers. Tidak lupa dandanan rambut mereka yang bergaya punk, tindik (peircing) di hidung, bibir, telinga dan di alis, tato yang telah terukir di tangan, leher, dan kaki.
Dalam skala negara, punk mengusung ide anarkisme. Menurut para pencetusnya, yaitu William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail A Bakunin, anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara. Di sini anarkisme menghendaki tatanan sosial yang tidak seorangpun bisa menindas atau mengekspolitasi orang lain; sebuah tatanan agar setiap orang mempunyai kesempatan yang setara untuk mencapai perkembangan material dan moralnya secara maksimal. Sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan makalah diatas maka penulis menyimpulkan sebagai berikut:
1.Sejarah Punk yang merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.
2.Gaya hidup punk mempunyai keanekaragaman komunitas yaitu : Anarcho Punk, Glam Punk, Crust Punk, Hard Core Punk, Nazi Punk , The Oi, Queer Core ,Riot Grrrl, Scum Punk, The Skate Punk, Ska Punk dan Punk Fashion.
3.Fenomena anak punk jumlahnya memang tidak banyak, tapi ketika mereka turun ke jalanan, setiap mata terpancing untuk melirik gaya rambutnya yang Mohawk ala suku Indian dengan warna-warna terang dan mencolok. Belum lagi atribut rantai yang tergantung di saku celana, sepatu boot Dr. Marteen, kaos hitam, jaket kulit penuh badge atau peniti, serta ‘spikes’ (gelang berbahan kulit dan besi seperti paku yang terdapat di sekelilingnya) yang menghiasi pergelangan tangannya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari busana mereka. Begitu juga dengan celana jeans super ketat hingga mata kaki yang dipadukan dengan baju lusuh, makin menguatkan kesan anti kemapanan dan antisosial pada mereka. Masyarakat mengenal mereka sebagai anak punk.
3.2 Saran
Adapun saran penulis sebagai berikut yaitu:
1.Punk merupakan budaya negara barat yang ternyata telah diterima dan diterapkan dalam kehidupan oleh sebagian anak remaja Indonesia, menyebabkan budaya nenek moyang kita terkikis dengan nilai – nilai yang negatif.
2.Gaya hidup punk juga mempunyai sisi negatif dari masyarakat karena anak punk sendiri mempunyai komunitas dan selalu berkumpul dengan anak punk lainnya, mengakibatkan pandangan masyarakat akan anak punk adalah perusak, karena mereka bergaya rada aneh dan seringnya berkumpul di malam hari menimbulkan praduga bahwa mereka mungkin juga pengguna obat – obat narkotik.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Soekanto Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada
Internet:
http://id.wikipedia.org
http://bhorykotzen.wordpress.com
http://freemagz.com
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Dalam kehidupan modernisasi yang pola hidupnya terarah tidak dipungkiri menimbulkan kelompok – kelompok social dalam masyarakat. Kelompok – kelompok social dalam masyarakat terjadi karena adanya persamaan tujuan atau senasib dari masing – masing individu. Kelompok - kelompok social ini tidak hanya terjadi pada orang – orang yang bekerja dalam segi ekonomi, politik dan budaya tetapi akhir – akhir ini muncul kelompok – kelompok social yang dibentuk oleh sekelompok anak muda yang ternyata menjadi masalah generasi muda.
Masalah generasi muda pada umumnya ditandai oleh dua ciri yang berlawanan yakni, keinginan untuk melawan (misalnya dalam bentuk radikalisme, delinkuensi dan sebagainya) dan sikap yang apatis (misalnya penyesuaian yang membabi buta terhadap ukuran moral generasi tua). Sikap melawan mungkin disertai dengan suatu rasa takut bahwa masyarakat akan hancur karena perbuatan – perbuatan yang menyimpang. Sedangkan sikap apatis biasanya disertai dengan rasa kecewa terhadap masyarakat. Generasi muda biasanya mennghadapi masalah social dan biologis. Apabila seseorang mencapai usia remaja, secara fisik dia telah matang, tetapi untuk dapat dikatakan dewasa dalam arti social masih diperlukan factor – factor lainya.
Masa remaja dikatakan sebagai suatu masa yang berbahaya karena pada periode itu, seseorang meninggalkan tahap kehidupan anak – anak, untuk menuju ke tahap selanjutnya yaitu tahap kedewasaan. Masa ini dirasakan sebagai suatu krisis karena belum adanya pegangan, sedangkan kepribadiannya sedang mengalami pembentukan. Generasi muda sangat diperlukan belajar mengenai nilai dan norma –norma masyarakatnya. Pada masyarakat bersahaja hal itu tidak jadi masalah, karena anak memperoleh pendidikan dalam lingkungan kelompok kekerabatan. Perbedaan kedewasaan sosial dengan kematangan biologis tidak terlalu mencolok, posisinya dalam masyarakat antara lain ditentukan oleh usia.
Di kota – kota besar Indonesia, misalnya di Banjarmasin sekarang ini bermunculan sekelompok generasi muda yang mempunyai gaya hidup yang sangat menyimpang dari norma – norma masyarakat setempat, sekelompok generasi muda itu disebut dengan anak punk. Gaya hidup ialah relatif tidak ada seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya Gaya hidup berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan situasi maka punk kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek "jor-joran" yaitu memanfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita. Dengan kata lain punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.
Gaya hidup yang anarkis yang membuat mereka merasa mendapat kebebasan. Adapun yang mengatakan bahwa sekelompok anak muda bergaya hidup punk dikarenakan adanya suatu gejala perasaan yang tidak puas, sehingga mereka mengubah gaya hidup mereka dengan gaya hidup punk. Namun kenyataannya gaya hidup punk ternyata membuat masyarakat Kota Banjarmasin resah dan sebagian lagi menganggap dari gaya hidup yang mengarah ke barat – baratan. Sehingga penulis membuat suatu makalah fenomena kelompok social yaitu fenomena anak punk yang sekarang memang menjadi masalah kelompok generasi muda dalam modernisasi.
1.2Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan masalah, sebagai berikut:
1.Sejarah Pengertian gaya hidup dan ideology Punk?
2.Jenis – Jenis gaya hidup Punk?
3.Fenomena sekelompok anak muda bergaya hidup Punk?
1.3Tujuan Makalah
Adapun makalah ini dibuat mempunyai tujuan sebagai berikut:
1.Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sosiologi
2.Untuk mendapatkan nilai yang sempurna
3.Untuk menambah wawasan dalam menghadapi masalah kelompok sosial dalam masyarakat
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Pengertian Gaya Hidup dan Ideologi Punk
Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.
Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.
Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.
Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.
Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.
Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).
Dengan definisi diatas, punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas).
Punk selanjutnya berkembang sebagai buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.
Akibatnya punk dicap sebagai musik rock n’ roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi. Perusahaan-perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.
Gaya hidup ialah relatif tidak ada seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya. Ideologi diambil dari kata “ideas” dan “logos” yang berarti buah pikiran murni dalam kehidupan. Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan situasi maka punk kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek “jor-joran” yaitu manfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita. Dengan kata lain punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.
Punk dan Anarkisme
Kegagalan Reaganomic dan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam di tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia punk pada saat itu. Band-band punk gelombang kedua (1980-1984), seperti Crass, Conflict, dan Discharge dari Inggris, The Ex dan BGK dari Belanda, MDC dan Dead Kennedys dari Amerika telah mengubah kaum punk menjadi pemendam jiwa pemberontak (rebellious thinkers) daripada sekadar pemuja rock n’ roll. Ideologi anarkisme yang pernah diusung oleh band-band punk gelombang pertama (1972-1978), antara lain *** Pistols dan The Clash, dipandang sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat, maupun industri musik.
Di Indonesia, istilah anarki, anarkis atau anarkisme digunakan oleh media massa untuk menyatakan suatu tindakan perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Padahal menurut para pencetusnya, yaitu William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail Bakunin, anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri.
Negara menetapkan pemberlakuan hukum dan peraturan yang sering kali bersifat pemaksaan, sehingga membatasi warga negara untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kaum anarkis berkeyakinan bila dominasi negara atas rakyat terhapuskan, hak untuk memanfaatkan kekayaan alam dan sumber daya manusia akan berkembang dengan sendirinya. Rakyat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara.
Kaum punk memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka. Punk etika semacam inilah yang lazim disebut DIY (do it yourself/lakukan sendiri).
Keterlibatan kaum punk dalam ideologi anarkisme ini akhirnya memberikan warna baru dalam ideologi anarkisme itu sendiri, karena punk memiliki ke-khasan tersendiri dalam gerakannya. Gerakan punk yang mengusung anarkisme sebagai ideologi lazim disebut dengan gerakan Anarko-punk.
2.2 Jenis – Jenis Gaya Hidup Punk
Gaya hidup punk mempunyai keanekaragaman komunitas yaitu:
a.Anarcho Punk
Komunitas Punk yang satu ini memang termasuk salah satu komunitas yang sangat keras. Bisa dibilang mereka sangat menutup diri dengan orang-orang lainnya, kekerasan nampaknya memang sudah menjadi bagiandari kehidupan mereka. Tidak jarang mereka juga terlibat bentrokan dengan sesama komunitas Punk yang lainnya.
Anarcho Punk juga sangat idealis dengan ideologi yang mereka anut. Ideologi yang mereka anut diantaranya, Anti Authoritarianism dan Anti Capitalist.Crass, Conflict, Flux Of Pink Indians merupakan sebagian band yang berasal dari Anarcho Punk.
b.Crust Punk
Jika Anda berpikir bahwa Anarcho Punk merupakan komunitas Punk yang sangat brutal, maka Anda harus menyimak yang satu ini. Crust Punk sendiri sudah diklaim oleh para komunitas Punk yang lainnya sebagai komunitas Punk yang paling brutal. Para penganut dari faham ini biasa disebut dengan Crusties. Para Crusties tersebut sering melakukan berbagai macam pemberontakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Musik yang mereka mainkan merupakan penggabungan dari musik Anarcho Punk dengan Heavy Metal. Para Crusties tersebut merupakan orang-orang yang anti sosial, mereka hanya mau bersosialisasi dengan sesama Crusties saja.
c.Glam Punk
Para anggota dari komunitas ini merupakan para seniman. Apa yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari sering mereka tuangkan sendiri dalam berbagai macam karya seni. Mereka benar-benar sangat menjauhi perselisihan dengan sesama komunitas atau pun dengan orang-orang lainnya.
d.Hard Core Punk
Hard Core Punk mulai berkembang pada tahun 1980an di Amerika Serikat bagian utara. Musik dengan nuansa Punk Rock dengan beat-beat yang cepat menjadi musik wajib mereka. Jiwa pemberontakan juga sangat kental dalam kehidupan mereka sehari-hari, terkadang sesama anggota pun mereka sering bermasalah.
e.Nazi Punk
Dari sekian banyaknya komunitas Punk, mungkin Nazi Punk ini merupakan sebuah komunitas yang benar-benar masih murni. Faham Nazi benar-benar kental mengalir di jiwa para anggotanya. Nazi Punk ini sendiri mulai berkembang di Inggris pada tahun 1970an akhir dan dengan sangat cepat menyebar ke Amerika Serikat. Untuk musiknya sendiri, mereka menamakannya Rock Against Communism dan Hate Core.
f. The Oi
The Oi atau Street Punk ini biasanya terdiri dari para Hooligan yang sering membuat keonaran dimana-mana, terlebih lagi di setiap pertandingan sepak bola. Para anggotanya sendiri biasa disebut dengan nama Skinheads. Para Skinheads ini sendiri menganut prinsip kerja keras itu wajib, jadi walaupun sering membuat kerusuhan mereka juga masih memikirkan kelangsungan hidup mereka. Untuk urusan bermusik, para Skinheads ini lebih berani mengekspresikan musiknya tersebut dibandingakan dengan komunitas-komunitas Punk yang lainnya. Para Skinheads ini sendiri sering bermasalah dengan Anarcho Punk dan Crust Punk.
g. Queer Core
Komunitas Punk yang satu ini memang sangat aneh, anggotanya sendiri terdiri dari orang-orang “sakit”, yaitu para lesbian, homoseksual, biseksual dan para transexual. Walaupun terdiri dari orang-orang “sakit”, namun komunitas ini bisa menjadi bahaya jika ada yang berani mengganggu mereka. Dalam kehidupan, anggota dari komunitas ini jauh lebih tertutup dibandingkan dengan komunitas-komunitas Punk yang lainnya. Queer Core ini sendiri merupakan hasil perpecahan dari Hard Core Punk pada tahun 1985.
h.Riot Grrrl
Riot Grrrl ini mulai terbentuk pada tahun 1991, anggotanya ialah para wanita yang keluar dari Hard Core Punk. Anggota ini sendiri juga tidak mau bergaul selain dengan wanita. Biasanya para anggotanya sendiri berasal dari Seattle, Olympia dan Washington DC.
i. Scum Punk
Jika Anda tertarik dengan Punk, mungkin ini salah satu komunitas yang layak untuk diikuti. Scum Punk menamakan anggotanya dengan sebutan Straight Edge Scene. Mereka benar-benar mengutamakan kenyamanan, kebersihan, kebaikan moral dan kesehatan. Banyak anggota dari Scum Punk yang sama sekali tidak mengkonsumsi zat-zat yang dapat merusak tubuh mereka sendiri.
j. The Skate Punk
Skate Punk memang masih erat hubungannya dengan Hard Core Punk dalam bermusik. Komunitas ini berkembang pesat di daerah Venice Beach California. Para anggota komunitas ini biasanya sangat mencintai skate board dan surfing.
k. Ska Punk
Ska Pun merupakan sebuah penggabungan yang sangat menarik antara Punk dengan musik asal Jamaica yang biasa disebut reggae. Mereka juga memiliki jenis tarian tersendiri yang biasa mereka sebut dengan Skanking atau Pogo, tarian enerjik ini sangat sesuai dengan musik dari Ska Punk yang memilikibeat-beat yang sangat cepat.
l. Punk Fashion
Para Punkers biasanya memiliki cara berpakaian yang sangat menarik, bahkan tidak sedikit masyarakat yang bukan Punkers meniru dandanan mereka ini. Terkadang gaya para Punkers ini juga digabungkan dengan gaya berbusana saat ini yang akhirnya malah merusak citra dari para Punkers itu sendiri. Untuk pakaiannya sendiri, jaket kulit dan celana kulit menjadi salah satu andalan mereka, namun ada juga Punkers yang menggunakan celana jeans yang sangat ketat dan dipadukan dengan kaos-kaos yang bertuliskan nama-nama band mereka atau kritikan terhadap pemerintah. Untuk rambut biasanya gaya spike atau mohawk menjadi andalan mereka. Untuk gaya rambut ini banyak orang - orang biasa yang mengikutinya karena memang sangat menarik, namun terkadang malah menimbulkan kesan tanggung. Body piercing, rantai dan gelang spike menjadi salah satu yang wajib mereka kenakan. Untuk sepatu, selain boots tinggi, para Punkers juga biasa menggunakan sneakers namun hanya sneakers dari Converse yang mereka kenakan.
2.3 Fenomena Anak Punk
Jumlahnya anak punk memang tidak banyak, tapi ketika mereka turun ke jalanan, setiap mata terpancing untuk melirik gaya rambutnya yang Mohawk ala suku Indian dengan warna-warna terang dan mencolok. Belum lagi atribut rantai yang tergantung di saku celana, sepatu boot Dr. Marteen, kaos hitam, jaket kulit penuh badge atau peniti, serta ‘spikes’ (gelang berbahan kulit dan besi seperti paku yang terdapat di sekelilingnya) yang menghiasi pergelangan tangannya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari busana mereka. Begitu juga dengan celana jeans super ketat hingga mata kaki yang dipadukan dengan baju lusuh, makin menguatkan kesan anti kemapanan dan antisosial pada mereka. Masyarakat mengenal mereka sebagai anak punk.
Berbekal etika DIY (do it Your Self), beberapa komunitas punk di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Malang merintis usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut distro.
CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan. Mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tatoo. Seluruh produk dijual terbatas dan dengan harga yang amat terjangkau. Dalam kerangka filosofi punk, distro adalah implementasi perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja Levi’s, Adidas, Nike, Calvin Klein, dan barang bermerek luar negeri lainnya.
Sayangnya, pandangan negatif masih menyertai setiap kehadiran anak punk. Tanpa bermaksud menyudutkan, tampilan anak-anak punk yang cenderung ‘menyeramkan’ seringkali dikaitkan dengan perilaku anarkis, brutal, vandal, bikin onar, dan semau gue. Padahal boleh jadi, itu cuma perilaku segelintir remaja yang berpenampilan nge-punk. Daripada berprasangka, mending kita coba kenal kaum punk lebih dekat. Sehingga penilaian dan sikap kita lebih objektif.
Hadirnya generasi punk nggak bisa dilepaskan dari hingar-bingar dunia musik. Konon kisah lahirnya kaum punk pun diawali dari musik. Pada 1971, Lester Bangs, wartawan majalah semi-underground Amerika, Creem, menggunakan istilah punk untuk mendeskripsikan sebuah aliran musik rock yang semrawut, asal bunyi, namun bersemangat tinggi.
Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia, menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, termasuk kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang didominasi oleh musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Akibatnya punk dicap sebagai musik rock n’ roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi, apalagi rekaman. Boro-boro! Tak hanya dalam lirik lagu, teriakan kekecewaan kaum punk juga ditunjukkan dalam berbusana. Memang bisa dikatakan sudah nggak zamannya lagi, kalo remaja -male or female- tidak diberi kebebasan dalam memilih alternatif-alternatif berbusana yang ada di hadapannya sekarang ini. ‘Kalau memang sreg dan PeDe, kenapa tidak boleh memakai sesuatu yang aneh’. Misal, memakai paku-paku, gelang baja, peniti yang penuh menghias lengan baju, rok pendek, transparan, atau seksi bagi cewek, atau baju dan celana ketat bagi cowok. Bentuk dari sikap mereka yang anarkis ini, menimbulkan semacam pendapat orang – orang bahwa anak punk merupakan suatu bentuk kebebasan yang ingin didobrak.
Kalau ditanya makna punk yang sesungguhnya belum tentu pada ngerti, buat mereka punk itu cuma dandanan, attitude sama musik keras. Sekarang punk sudah kehilangan identitasnya, ini gara gara para prudusen ngeliat style punk bisa dijual mulai dari gaya rambut sampai pakaian.
Dalam “Philosophy of Punk”, Craig O’Hara (1999) menyebut tiga definisi punk. Pertama, punk sebagai trend remaja dalam fashion dan musik. Kedua, punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan. Terakhir, punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri. Definisi pertama adalah definisi yang paling umum digambarkan oleh media. Tapi justru yang paling tidak akurat karena cuma menggambarkan kesannya saja.
Di setiap tempat, sepak terjang kaum punk mampu menjelma menjadi sebuah gaya hidup yang konsisten melawan pemaksaan ide maupun budaya oleh para kapitalis maupun negara. Yup, mereka nggak setuju banget ama yang namanya otoritas. Sehingga mereka hidup berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri.
Di kota Banjarmasin gaya anak punk sering ditemui di malam hari, mereka menggunakan pakaian kaos warna hitam dan menggunakan celana jeans belel dengan model pencil dan kentat serta menggunakan sepatu sneakers. Tidak lupa dandanan rambut mereka yang bergaya punk, tindik (peircing) di hidung, bibir, telinga dan di alis, tato yang telah terukir di tangan, leher, dan kaki.
Dalam skala negara, punk mengusung ide anarkisme. Menurut para pencetusnya, yaitu William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail A Bakunin, anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara. Di sini anarkisme menghendaki tatanan sosial yang tidak seorangpun bisa menindas atau mengekspolitasi orang lain; sebuah tatanan agar setiap orang mempunyai kesempatan yang setara untuk mencapai perkembangan material dan moralnya secara maksimal. Sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan makalah diatas maka penulis menyimpulkan sebagai berikut:
1.Sejarah Punk yang merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.
2.Gaya hidup punk mempunyai keanekaragaman komunitas yaitu : Anarcho Punk, Glam Punk, Crust Punk, Hard Core Punk, Nazi Punk , The Oi, Queer Core ,Riot Grrrl, Scum Punk, The Skate Punk, Ska Punk dan Punk Fashion.
3.Fenomena anak punk jumlahnya memang tidak banyak, tapi ketika mereka turun ke jalanan, setiap mata terpancing untuk melirik gaya rambutnya yang Mohawk ala suku Indian dengan warna-warna terang dan mencolok. Belum lagi atribut rantai yang tergantung di saku celana, sepatu boot Dr. Marteen, kaos hitam, jaket kulit penuh badge atau peniti, serta ‘spikes’ (gelang berbahan kulit dan besi seperti paku yang terdapat di sekelilingnya) yang menghiasi pergelangan tangannya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari busana mereka. Begitu juga dengan celana jeans super ketat hingga mata kaki yang dipadukan dengan baju lusuh, makin menguatkan kesan anti kemapanan dan antisosial pada mereka. Masyarakat mengenal mereka sebagai anak punk.
3.2 Saran
Adapun saran penulis sebagai berikut yaitu:
1.Punk merupakan budaya negara barat yang ternyata telah diterima dan diterapkan dalam kehidupan oleh sebagian anak remaja Indonesia, menyebabkan budaya nenek moyang kita terkikis dengan nilai – nilai yang negatif.
2.Gaya hidup punk juga mempunyai sisi negatif dari masyarakat karena anak punk sendiri mempunyai komunitas dan selalu berkumpul dengan anak punk lainnya, mengakibatkan pandangan masyarakat akan anak punk adalah perusak, karena mereka bergaya rada aneh dan seringnya berkumpul di malam hari menimbulkan praduga bahwa mereka mungkin juga pengguna obat – obat narkotik.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Soekanto Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada
Internet:
http://id.wikipedia.org
http://bhorykotzen.wordpress.com
http://freemagz.com
Minggu, 18 November 2007
kelayangan
mauk banar bayu tuh,,mank unda kelayangan ditarik ulur tarus dari dahulu kala.....
mehadang km nembak aku secara langsung kayaknya kelawasan,,masa hdk nembak malam2 ke rumah nda???ngga mungkin lagi,,,mehadang nyawa nembak nda baik besmsan ma nagabonar,,,ternyata orangnya seru abizz.....asik,,,,senangnya akhirnya bisa smsn ma orang yang disukain,,ha,,,,,pengen deket,,,,ha?????malunya daku......
mehadang km nembak aku secara langsung kayaknya kelawasan,,masa hdk nembak malam2 ke rumah nda???ngga mungkin lagi,,,mehadang nyawa nembak nda baik besmsan ma nagabonar,,,ternyata orangnya seru abizz.....asik,,,,senangnya akhirnya bisa smsn ma orang yang disukain,,ha,,,,,pengen deket,,,,ha?????malunya daku......
sesalku
dah seminggu aku putusan ma fuad tapi kenapa sekarang aku merasa kehilangan banget,,kenapa pas aku putusin ngga ngerasa. aku takut bgt kalo aku karma. jujur aku masih sayang ma dia. di saat aku mulai menyayangi nya pasti ada aja masalah :( yang buat hubungan kita jadi bermasalah,,tapi itu semua dari kesalahan dia,,,aku ngga mau disakitin tapi nyatanya dia dah 3 kali bikin aku sakit,,pertama dia boongin semua profil dia,,ngga da kejujuran terhadap aku,,kedua eh waktu ingin jalan2 eh dia malah jalan ma temen2nya ketimbang aku (T,T) trus setelah dia pergi ke malang eh aku sms yang isinya perhatian eh yang ngebalas malaaaah mantannya,,hiks,,hiks,,,sedihh,,kesel,benci untuk itu aku mutusin dia. udah lah biar dia menjadi kenangan dalam cerita cinta ku...
Kau yang sangat ku sayangi
Harus kah ku biar kan kau pergi
Kau yang sangat ku cintai
Haruskah ku biar kan kau meninggalkan aku
Melupakan aku...
Sesalku dalam hati
Melepaskan mu,,,
Mampukah ku menjadi manusia tangguh
Untuk dapat melupakan mu..
Kenangan kau bersama mu
takkan pernah terlupakan dalam hidupku
Ku merindukan semua yang kau berikan pada diriku...
Ku menunggumu
Tuk kembali padaku
Namun tak mungkin
Karena kau tak pernah menengok ke belakang
selamat tinggal
lupakan aku
tapi kenang lah cinta ku pada mu....
Kau yang sangat ku sayangi
Harus kah ku biar kan kau pergi
Kau yang sangat ku cintai
Haruskah ku biar kan kau meninggalkan aku
Melupakan aku...
Sesalku dalam hati
Melepaskan mu,,,
Mampukah ku menjadi manusia tangguh
Untuk dapat melupakan mu..
Kenangan kau bersama mu
takkan pernah terlupakan dalam hidupku
Ku merindukan semua yang kau berikan pada diriku...
Ku menunggumu
Tuk kembali padaku
Namun tak mungkin
Karena kau tak pernah menengok ke belakang
selamat tinggal
lupakan aku
tapi kenang lah cinta ku pada mu....
Love n Peace
irma
irma
Kamis, 08 November 2007
i love travelling...
heheeeee...akhirnya selesai juga semua urusan di makasar dan akhirnya kembali ke banjarmasin,,,ada asiknya juga,,seru plus capek,,,bayangin ini suatu perjalanan yang panjang baget...mau ke makasar tapi lewat balikpapan???emank ada pesawat tapi mahal masa cuma ke makasar gw harus ngeluarin duit di saku 1,3 jt,,,kalo ke Aussi bolh tapi cuma untuk dalam negeri???no way lah,,,kecuali kepepet bagt n perlu bgt,,satu penting bgt....cari yang murah ternyata membawa diri kita untuk merasakan dunia travelling...cihuiii...!!!
sempet mikir juga seh gimana nyampe balikpapan padahal ngga ada sanak keluarga,,,tapi langsung aja cari travel,,akhirnya juga ada toh yang nganter ke pelabuhan....eh sampe di pelabuhan kapal ditunda selama 2 jam...and the last akhirnya kita dapat juga naik ke kapal. bisa ngga ngebayangin berdesakan di atas tangga dengan para buruh sampe akhirnya gua marah2 di atas tangga sendirian,,,hahahahahahahaaaaaaaa untung pak satpam ngga ngelototin gue,,,hhahaahaa
eh sampe di dek 1 koper gw ditarik2 ma orang katany" ini ada temap 3 orang" percaya seh kagak akhirnya maen tarik2an sambil teriak2an ma ka2 sepupu gua,,,tapi akhirnya gua ngga kuat eh koper gw di bawa kabur tapi bener kata dia ada tempat untuk 3 orang,,hahahaaa....
selama 24 jam kita b3 bisa juga bertahan hidup di kapal,,,dan kerjaan kami di kapal hanya makan,,,tidur,,,makan,,tidur,,,sampe2 ada cwo yang nyanyi "bangun tidur ku trus makan,,,hahaaaaa...." gila tuh cowo tersinggung tapi penuh dengan ketawa 0 ketiwi...mungkin bisa ditebak di dek 1 kayaknya cuma kami b3 yang ngga mandi,,bayangin aja wc cewe penuh dengan cowo sapa yang mau...satu toilet dengan cowo,,,geli atuh,,,,
sampe di makasar akhirnya ada sepupu yang jemput,,trus dianter ke rumah tante yang berada di malengkeri tapi sayang rumahnya kosong coz semua udah pada ke bugis cuma kami ajaj yang belum...ngga sampe 5 menit kami mandi eh tiba2 mobil penjembut kami yang nganter ke bugis datang,,,trus langsung aja kami naik dan perjalanan kami ke sana 6 jam ...jadi bisa dikalkulasikan dari bjm ke balikpapan 18 jam trus naik kapal 24 jam trus nyambung lagi ke bugis selama 6 jam hasilnya sama dengan kecapean,,,,,
sempet mikir juga seh gimana nyampe balikpapan padahal ngga ada sanak keluarga,,,tapi langsung aja cari travel,,akhirnya juga ada toh yang nganter ke pelabuhan....eh sampe di pelabuhan kapal ditunda selama 2 jam...and the last akhirnya kita dapat juga naik ke kapal. bisa ngga ngebayangin berdesakan di atas tangga dengan para buruh sampe akhirnya gua marah2 di atas tangga sendirian,,,hahahahahahahaaaaaaaa untung pak satpam ngga ngelototin gue,,,hhahaahaa
eh sampe di dek 1 koper gw ditarik2 ma orang katany" ini ada temap 3 orang" percaya seh kagak akhirnya maen tarik2an sambil teriak2an ma ka2 sepupu gua,,,tapi akhirnya gua ngga kuat eh koper gw di bawa kabur tapi bener kata dia ada tempat untuk 3 orang,,hahahaaa....
selama 24 jam kita b3 bisa juga bertahan hidup di kapal,,,dan kerjaan kami di kapal hanya makan,,,tidur,,,makan,,tidur,,,sampe2 ada cwo yang nyanyi "bangun tidur ku trus makan,,,hahaaaaa...." gila tuh cowo tersinggung tapi penuh dengan ketawa 0 ketiwi...mungkin bisa ditebak di dek 1 kayaknya cuma kami b3 yang ngga mandi,,bayangin aja wc cewe penuh dengan cowo sapa yang mau...satu toilet dengan cowo,,,geli atuh,,,,
sampe di makasar akhirnya ada sepupu yang jemput,,trus dianter ke rumah tante yang berada di malengkeri tapi sayang rumahnya kosong coz semua udah pada ke bugis cuma kami ajaj yang belum...ngga sampe 5 menit kami mandi eh tiba2 mobil penjembut kami yang nganter ke bugis datang,,,trus langsung aja kami naik dan perjalanan kami ke sana 6 jam ...jadi bisa dikalkulasikan dari bjm ke balikpapan 18 jam trus naik kapal 24 jam trus nyambung lagi ke bugis selama 6 jam hasilnya sama dengan kecapean,,,,,
Langganan:
Postingan (Atom)
