Pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman
A. Pendahuluan
Menurut teorinya secara positif pembangunan merupakan suatu proses untuk membuat sesuatu yang lebih baik dan membuat sesuatu yang belum dibangun untuk dibangun. Pembangunan sebagai fenomena social yang mencerminkan kemajuan peradaban dari tingkat peradaban yang satu ke tingkat peradaban lain.
Pembangunan ditujukan untuk membuat suatu daerah lebih baik sebelumnya. Dengan diberlakukannya UU No.22 Tentang Otonomi Daerah, Banjarmasin juga sedang maraknya melakukan pembangunan agar menjadi Kota Banjarmasin yang BUNGAS yaitu Bersih, Unggul, Nyaman, Gagah, Aman dan Sehat. Apalagi Kota Banjarmasin menyandang predikat sebagai kota terkotor se-Indonesia, hal ini dikarenakan penilaian yang terlihat buruknya pengelolaan lingkungan atas kota dengan luas 72,6 kilometer persegi yang dihuni sekitar 572.000 jiwa dan ini menyangkut kondisi jalan, got saluran air, pasar, terminal angkutan umum dan pengelolaan sampah yang masih semrawut.
Pada masa Rudi Arifin, secara kasat mata banyak sekali pembangunan yang dilaksanakan untuk mewujudkan kota Banjarmasin BUNGAS. Salah satunya adalah pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman yang letaknya tepat di depan Mesjid Raya Sabilal Muhtadin. Sebelum dibangunnya pembangunan siring tersebut, terlihat sangat kumuh karena diseberang bantaran sungai Martapura tersusun rumah – rumah kayu yang sangat kusam dan tidak rapi. Bukan hanya itu, bantaran sungai pun kadang – kadang digunakan oleh masyarakat setempat untuk melakukan aktivitas seperti mandi, cuci – cuci, dan lainnya yang sangat tidak enak dilihat oleh orang – orang yang sedang melewati Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya lagi di muka Mesjid Raya Sabilal Muhtadin. Kemudian, apabila air sungai Martapura mengalami pasang maka air sungai akan membanjiri jalan Jenderal Sudirman yang akibatnya sampah – sampah di sungai pun ikut membanjiri jalan Jenderal Sudirman, jadi bisa dikatakan bahwa penilaian tidak salah kalau Kota Banjarmasin dipredikatkan sebagai kota yang paling terkotor.
Pada tanggal 21 Desember 2006 lalu, Siring Jalan Jenderal Sudirman telah diresmikan oleh Pemerintah Kota Banjarmasin. Pembangunan yang dibuat sepanjang jalan Jenderal Sudirman yaitu 320 meter dan menghabiskan dana sebesar Rp 15.756.955.390 terlihat sangat indah dan anggun. Pembangunan ini bisa dijadikan sebagai suatu kemajuan material bagi Kota Banjarmasin yang kebanyakan dianggap oleh masyarakat sebagai kemajuan Kota Banjarmasin untuk lebih maju dan unggul serta menghapus predikat kota terkotor se-Indonesia. Namun, yang namanya pembangunan pasti memiliki suatu dampak baik itu bersifat positif maupun negatif dari masyarakat dan untuk masyarakat Kota Banjarmasin.
B. Tujuan Pembagunan
Suatu pembagunan baik itu jangka panjang maupun jangka pendek pasti mempunyai tujuan yang tentunya akan bermanfaat bagi daerah itu sendiri maupun masyarakat setempat. Bagitu pula pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman yang dibuat bertujuan untuk menata perkotaan Banjarmasin agar lebih indah dilihat dan mengantisipasi air bantaran sungai Martapura yang tiba – tiba naik ke Jalan jenderal Sudirman akibat pasangnya air di sungai.
C. Kondisi di Lapangan
Selesainya Siring Sudirman ini membuat warna baru bagi Kota Banjarmasin dan dijadikan sebagai tempat santai oleh masyarakat Banjarmasin, ini bisa terlihat pada sore hari yang banyak dikunjungi oleh masyarakat dari anak – anak, muda – mudi dan orang tua. Suasana yang mengasyikan untuk melepaskan suntuk, lelah dan capek sambil menyaksikan perahu – perahu air yang berlalu lalang di sungai Martapura, mersakan hembusan angin yang sepoi – sepoi dan menikmati demboran ombak sungai yang dapat menentramkan jiwa masyarakat Kota Banjarmasin. Apalagi pada malam hari, dimana lampu – lampu yang menghiasi sepanjang siring itu membuat pusat Kota Banjarmasin semakin anggun. Tiangnya yang terbuat dari kayu ulin, menjadi ciri khas tersendiri yang menggambarkan sebuah arsitektur budaya Banjar.
Siring Jalan Jenderal Sudirman yang sangat menarik perhatian masyarakat Kota Banjarmasin untuk selalu mengunjunginya mengakibatkan suatu dampak yang negatif yang terlihat jelas di lapangan sebagai hasil obesrvasi yaitu:
1.Banyak para pedagang atau PKL yang beroperasi menjualkan dagangannya di pinggir jalan raya sehingga mengakibatkan terganggunya arus lalu lintas.
2.Sampah – sampah yang menghiasi pinggir Siring Jalan Jenderal Sudirman akibat masyarakat yang kurang kesadarannya untuk selalu menjaga kelestarian Siring Jalan Jenderal Sudirman.
3.Walaupun Pemerintah telah mendirikan dua buah papan pengumuman yang menyatakan dilarangnya bagi PKL di kawasan siring namun masih saja terlihat PKL yang beroperasional.
4.Parkir – parkir liar yang memakan tempat jalan raya mengakibatkan terganggunya arus lalu lintas yang menimbulkan kemacetan di sore hari.
5.Siring bukan hanya dijadikan sebagai tempat nongkrong bagi muda – mudi tetapi juga dijadikan sebagai tempat mengadu kasih atau tempat berpacaran yang sangat tidak etis mengingat depan Siring Jalan Jenderal Sudirman adalah Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.
Pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman juga mempunyai dampak yang positif yang sangat bermanfaat bagi Kota Banjarmasin, yaitu:
1.Dapat dijadikan sebagai dermaga untuk masyarakat yang ingin berpergian ke suatu tempat melalui sungai Martapura dengan menggunakan perahu – perahu kecil.
2.Dengan adanya pembangunan siring tersebut Kota Banjarmasin semakin indah dan anggun dilihat orang – orang yang melalui kawasan Jalan Jenderal Sudirman.
3.Waktu air sungai pasang, maka tidak lagi membanjiri Jalan Jenderal Sudirman karena pembangunan yang melindungi agar air tidak naik ke jalan raya.
4.Dapat dijadikan sebagai tempat santai bagi masyarakat Kota Banjarmasin untuk menghilangkan kejenuhan dan menenangkan jiwa.
D. Saran – saran
Dari hasil observasi di Siring Jalan Jenderal Sudirman, ada beberapa saran – saran yang dapat dijadikan sebagai masukan agar Siring Jalan Jenderal Sudirman dapat dijaga dan dilestarikan sehingga pembangunan tersebut dapat bertahan semaksimal, yaitu:
1.Hendaknya Pemerintah selalu mengaktifkan Pamong Praja untuk mengawasi para PKL liar yang masih beroperasional di kawasan Siring Jalan Jenderal Sudirman agar pusat kota tidak semrawut atas PKL – PKL.
2.Pemerintah juga hendaknya memperhatikan parkir – parkir liar sepanjang Jalan Jenderal Sudirman yang sangat mengganggu arus lalu lintas bagi masyarakat yang melewati kawasan Jalan Jenderal Sudirman supaya dapat mengantisipasi kemacetan dan kecelakaan.
3.Kurangnya kesadaran masyarakat untuk dapat tertib membuang sampah di tempatnya, ini sangat terlihat di sisi – sisi atau di pojok – pojok siring masih bertebarannya sampah – sampah yang mengakibatkan Siring Jalan Jenderal Sudirman terlihat kotor dan kusam.
E. Foto – foto Hasil di Lapangan
Gambar 1. Kondisi Kota Banjarmasin di sekitar bantaran Sungai Martapura pada saat proyek pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 2. Peresmian Siring Jalan Jenderal Sudirman yang ditanda tangani oleh Gubernur Banjarmasin Bp. H. Rudi Arifin, S. Sos
Gambar 3. Kondisi perumuhan yang kumuh di seberang Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 4. Suasana Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 5. Kondisi Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 6. Siring Jalan Jenderal Sudirman dapat dijadikan sebagai dermaga
Gambar 7. Papan Pengumuman larangan bagi PKL di kawasan Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 8. Sampah yang berserakan di sekitar Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 9. Para PKL yang beroperasional di kawasan Siring Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 10. Sirng Jalan Jenderal Sudirman dijadikan sebagai tempat pacaran atau berduaan
Gambar 11. Parkir liar yang memakan Jalan Jenderal Sudirman
Gambar 12. Pembangunan Siring Jalan Jenderal Sudirman yang sangat asri dan nyaman
Minggu, 02 Desember 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.
semoga segala hal yang dikerjakan dapat ridho dr Allah SWT.
Amien
Posting Komentar